10 Mitos Menakjubkan Putri Tujuh Asal Usul Kota Dumai. Sudahkah Anda Mengetahuinya?
Legenda Putri Tujuh. Indonesia mempunyai beragam kekayaan budaya yang sangat banyak, salah satunya adalah cerita rakyat. Cerita rakyat merupakan cerita atau kisah yang diturunkan dari generasi ke generasi secara lisan maupun tulisan. Cerita rakyat biasanya menceritakan tentang asal-usul suatu daerah, benda, atau peristiwa yang melegenda. Salah satu cerita rakyat yang terkenal di Indonesia khususnya Provinsi Riau adalah cerita legenda Putri Tujuh. Cerita ini mengisahkan mengenai tujuh orang putri cantik jelita yang berasal dari Kerajaan Seri Bunga Tanjung di pesisir Riau. Cerita ini juga menjadi asal usul nama Kota Dumai, sebuah kota industri yang terletak di Provinsi Riau. Kota Dumai juga merupakan salah satu kota di Provinsi Riau yang terkenal dengan keindahan alamnya. Kota ini juga memiliki sejarah yang panjang, yang salah satunya dikisahkan dalam cerita rakyat legenda Putri Tujuh. Mari kita simak bersama ringkasan cerita rakyat tentang legenda Putri Tujuh dan asal usul Kota Dumai berikut ini.
legenda putri tujuh
Perpustakaan Seri Bunga Tanjung di Kota Dumai

Legenda Putri Tujuh dan Asal Usul Kota Dumai

Pada zaman dahulu kala, di daerah yang sekarang menjadi Kota Dumai berdiri sebuah kerajaan kecil nan makmur bernama Seri Bunga Tanjung. Kerajaan ini diperintah oleh seorang Ratu yang bernama Cik Sima. Ratu ini memiliki tujuh orang putri yang elok nan rupawan, yang dikenal dengan istilah Putri Tujuh. Dari ketujuh putri tersebut, putri bungsulah yang paling cantik, namanya Mayang Sari. Putri Mayang Sari memiliki keindahan tubuh yang sangat memesona, kulitnya lembut bagaikan sutra, wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama, bibirnya merah bagaikan delima, alisnya bagaikan semut beriring, rambutnya yang panjang dan ikal terurai bagaikan mayang. Karena itu, sang Putri juga dikenal dengan sebutan Mayang Mengurai dari antara Putri Tujuh. Suatu hari, ketujuh putri tersebut sedang mandi dan bermain di lubuk Sarang Umai. Karena asyik berendam dan bersenda gurau, ketujuh putri tersebut tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang sedang mengamati mereka, yang ternyata adalah Pangeran Empang Kuala dan para pengawalnya yang kebetulan sedang lewat di daerah itu. Mereka mengamati ketujuh putri tersebut dari balik semak-semak. Secara diam-diam, sang Pangeran kagum dan terpesona melihat kecantikan salah satu putri yang tak lain adalah Putri Mayang Sari. Tanpa disadari, Pangeran Empang Kuala bergumam lirih, “Gadis cantik di lubuk Umai…cantik di Umai. Ya, ya…d‘umai…d‘umai…” Kata-kata itu terus terucap dalam hati Pangeran Empang Kuala. Rupanya, sang Pangeran jatuh cinta kepada sang Putri terutama Mayang Mengurai. Karena itu, sang Pangeran berniat untuk meminangnya. Beberapa hari kemudian, sang Pangeran mengirim utusan untuk meminang Putri Tujuh terutama putri bungsu yang diketahuinya bernama Mayang Mengurai. Utusan tersebut mengantarkan tepak sirih sebagai pinangan adat kebesaran raja kepada Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Pinangan itu pun disambut pula oleh Ratu Cik Sima dengan kemuliaan adat yang berlaku di Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Sebagai balasan pinangan Pangeran Empang Kuala, Ratu Cik Sima pun menjunjung tinggi adat istiadat kerajaan yaitu mengisi pinang dan gambir pada combol paling besar di antara tujuh buah combol yang ada di dalam tepak itu. Hal ini menyimbolkan pinangan terhadap Putri Tujuh. Enam buah combol lainnya sengaja tak diisinya, sehingga tetap kosong. Adat ini melambangkan bahwa putri tertualah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu. Mengetahui pinangan Pangerannya ditolak, utusan tersebut kembali ke kerajaannya dan segera menghadap kepada sang Pangeran. “Ampun Baginda Raja! Hamba tak ada maksud mengecewakan Tuan. Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan Tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai.” Mendengar laporan itu, sang Raja pun emosi dan naik pitam kepada Ratu Cik Sima, ibunda dari Putri Tujuh, karena rasa merasa malu yang teramat sangat. Sang Pangeran tidak lagi peduli dengan adat yang berlaku di negeri Seri Bunga Tanjung. Amarah yang menguasai hatinya tidak bisa dikendalikan lagi. Sang Pangeran pun segera memerintahkan para panglima dan prajuritnya untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Putri Tujuh adalah kisah yang melibatkan tujuh putri cantik yang tragis meninggal dunia di dalam hutan. Legenda ini terus berkembang dan menjadi cerita rakyat yang disampaikan secara turun-temurun melalui cerita lisan dan tulisan. Kisah Putri Tujuh ini diyakini sebagai asal mula nama Kota Dumai, Riau. Dalam artikel ini, kami akan mengungkapkan fakta menarik seputar kisah Putri Tujuh dan bagaimana kematian mereka menjadi bagian penting dari sejarah Kota Dumai.
legenda putri tujuh
Hutan Bakau Dumai Salah Satu Venue Peperangan Putri Tujuh

Perang di Pinggiran Selat Malaka

Pertempuran antara kedua kerajaan di pinggiran Selat Malaka itu tak dapat dielakkan lagi. Perang berlangsung sengit dan berkepanjangan selama empat bulan lamanya. Kedua belah pihak sama-sama mengalami kerugian yang besar baik jiwa maupun harta benda. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang mau menyerah atau mengalah. Sementara itu, Putri Mayang Sari atau Mayang Mengurai merasa sangat sedih dan bersalah atas peristiwa perang tersebut. Ia merasa bahwa dirinyalah penyebab dari semua penderitaan yang dialami oleh kedua kerajaan. Ia pun memutuskan untuk mengasingkan diri dari istana dan pergi ke hutan. Di sana, ia bertemu dengan seorang pertapa yang bernama Jin. Jin adalah seorang yang sakti mandraguna dan memiliki ilmu gaib yang tinggi. Ia merasa kasihan melihat nasib Putri Mayang Sari yang terlunta-lunta. Ia pun menawarkan bantuan kepada sang Putri. “Putri, aku tahu siapa kau dan apa yang terjadi dengan kerajaanmu. Aku juga tahu bahwa kau tidak bersalah atas semua ini. Kau hanya menjadi korban dari nafsu dan ambisi Pangeran Empang Kuala yang tak tahu diri. Aku bersedia membantumu untuk mengakhiri perang ini, asalkan kau mau mengabulkan satu permintaanku.” kata Jin dengan suara lembut. “Terima kasih, Tuan Jin. Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu. Apa permintaanmu? Aku akan mengabulkannya selama itu tidak bertentangan dengan hati nuraniku.” jawab Putri Mayang Sari dengan penuh harapan. “Permintaanku adalah, kau harus mau menjadi istriku. Aku sudah lama mencari seorang wanita yang cantik dan baik hati seperti kau. Aku yakin kau akan bahagia bersamaku, karena aku akan menyayangimu dan melindungimu seumur hidupku.” kata Jin dengan penuh cinta. Putri Mayang Sari terkejut mendengar permintaan Jin. Ia merasa bingung dan takut. Ia tidak tahu apakah ia harus menerima atau menolak permintaan itu. Ia sadar bahwa Jin adalah seorang yang baik dan sakti, tetapi ia juga sadar bahwa ia adalah seorang manusia biasa yang tidak pantas menjadi istri seorang pertapa gaib. Ia pun memohon kepada Jin untuk memberinya waktu untuk berpikir. “Tuan Jin, aku mohon maaf, aku belum bisa menjawab permintaanmu sekarang. Aku perlu waktu untuk berpikir dan mempertimbangkan segala sesuatunya. Tolong berikan aku waktu satu hari saja, besok aku akan memberitahumu jawabanku.” kata Putri Mayang Sari dengan nada memelas. Jin pun mengabulkan permintaan Putri Mayang Sari. Ia memberikan waktu satu hari kepada sang Putri untuk berpikir. Ia berharap bahwa sang Putri akan menerima permintaannya dan menjadi istrinya.
legenda putri tujuh
Bukit Jin Rumah Tuan Jin

Janji Perdamaian

Keesokan harinya, Putri Mayang Sari datang lagi ke tempat pertapaan Jin. Ia sudah memutuskan jawabannya setelah berdoa dan berpikir sepanjang malam. “Tuan Jin, aku sudah memutuskan jawabanku. Aku bersedia menjadi istrimu, asalkan kau mau membantu mengakhiri perang ini dan menyelamatkan kedua kerajaan dari kehancuran.” ucap Putri Mayang Sari dengan tegas. Jin pun merasa senang mendengar jawaban Putri Mayang Sari. Ia pun langsung memeluk sang Putri dan menciumnya dengan mesra. “Aku sangat bahagia mendengar jawabanmu, Putri. Aku akan menepati janjiku untuk membantumu mengakhiri perang ini. Ayo kita pergi ke medan perang sekarang juga.” balas Jin dengan semangat. Mereka pun berangkat menuju medan perang dengan terbang di atas awan putih. Di sana, mereka melihat kedua kerajaan masih bertempur dengan sengitnya tanpa ada tanda-tanda berhenti. Jin pun langsung menggunakan ilmu gaibnya untuk menghentikan perang tersebut. Ia mengeluarkan suara guntur yang menggelegar dan menyambar-nyambar dengan kilat yang menyilaukan mata. Ia juga menghembuskan angin kencang yang membuat pasukan kedua kerajaan terhempas jatuh ke tanah. Para panglima dan prajurit kedua kerajaan merasa ketakutan melihat kejadian itu. Mereka mengira bahwa itu adalah murka Tuhan yang menimpa mereka karena telah melakukan perbuatan jahat. Mereka pun segera menghentikan perang dan menyerahkan diri kepada Jin dan Putri Mayang Sari. Mereka meminta maaf atas kesalahan mereka dan bersedia berdamai. Jin pun menerima permintaan mereka dengan bijaksana. Ia memerintahkan agar kedua kerajaan saling mengembalikan wilayah yang telah direbut dan saling membantu untuk membangun kembali kerajaan yang telah hancur. Ratu Cik Sima dan Pangeran Empang Kuala pun merasa lega dan bersyukur atas bantuan Jin dan Putri Mayang Sari. Mereka pun mengucapkan terima kasih kepada mereka dan meminta restu untuk menjalin hubungan baik antara kedua kerajaan. Jin dan Putri Mayang Sari pun memberikan restu kepada mereka. Mereka juga memberitahu bahwa mereka akan menikah dan tinggal di hutan sebagai pasangan suami istri. Putri Tujuh, Ratu Cik Sima, dan Pangeran Empang Kuala pun merasa senang dan bahagia mendengar kabar itu. Mereka pun mengucapkan selamat kepada mereka dan berharap agar mereka hidup bahagia selamanya.
legenda putri tujuh
Makam Putri Tujuh

Asal Usul Nama Dumai

Sebelum berpisah, Jin memberikan sebuah hadiah kepada Ratu Cik Sima dan Pangeran Empang Kuala. Hadiah itu adalah sebuah nama baru untuk daerah Dumai, yang merupakan gabungan dari kata-kata yang pernah diucapkan oleh Pangeran Empang Kuala ketika pertama kali melihat Putri Mayang Sari, yaitu “Gadis cantik di lubuk Umai…cantik di Umai. Ya, ya…d‘umai…d‘umai…”. “Mulai sekarang, daerah ini akan dikenal dengan nama Dumai. Nama ini melambangkan kecantikan, keindahan, dan kedamaian yang ada di sini. Semoga nama ini menjadi berkah bagi kalian semua.” ucap Jin dengan penuh makna. Ratu Cik Sima dan Pangeran Empang Kuala pun menerima hadiah itu dengan senang hati. Mereka pun menamakan daerah itu dengan nama Dumai, sebagai tanda penghormatan kepada Jin dan Putri Mayang Sari.
legenda putri tujuh
Kilang Pertamina Dumai Lokasi Makam Putri Tujuh
Dalam versi lain yang lebih dikenal luas di ceritakan bahwa ketujuh putri tersebut meninggal dalam tempat persembunyian mereka. Berikut kisah selengkapnya mengenai legenda Putri Tujuh.

Nama-nama Putri Cantik dan Keindahan Mereka

Putri Tujuh adalah tujuh putri yang sangat cantik dan masing-masing memiliki pesona tersendiri. Putri bungsu bernama Mayang Sari adalah yang paling cantik di antara mereka. Tubuhnya yang indah, wajahnya yang berseri seperti rembulan, kulitnya yang lembut seperti sutra, serta alis yang tampak seirama dan rambutnya yang panjang seperti mayang membuatnya sangat memikat.

Pengintai Pangeran Empang Kuala

Saat ketujuh putri sedang asyik berendam dan bersenda gurau di lubuk Sarang Umai, mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengintai. Orang tersebut adalah Pangeran Empang Kuala yang tanpa sengaja melihat kecantikan Putri Mayang Sari. Pangeran tersebut jatuh cinta padanya dan berniat untuk meminangnya.

Penolakan Pinangan dan Pertempuran

Pangeran Empang Kuala mengirim utusan untuk meminang Putri Mayang Mengurai, namun pinangannya ditolak oleh Ratu Cik Sima, ibunda dari ketujuh putri. Penolakan ini membuat Pangeran marah dan memutuskan untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Pertempuran sengit terjadi antara kedua kerajaan di tepian Selat Malaka.

Perlindungan Ratu Cik Sima terhadap Putri-Putri Cantik

Untuk melindungi putri-putrinya dari bahaya perang, Ratu Cik Sima menyembunyikan ketujuh putri cantik di dalam hutan. Mereka disembunyikan di dalam lubang beratap tanah yang dilindungi oleh pohon besar. Ratu Cik Sima memberikan mereka makanan yang cukup untuk tiga bulan selama mereka bersembunyi.

Bantuan Jin Penghuni Bukit

Dalam keadaan terdesak, Ratu Cik Sima meminta bantuan jin penghuni bukit di hulu Sungai Umai. Bantuan jin ini sangat efektif dalam menghancurkan pasukan Pangeran Empang Kuala. Saat pasukan tersebut beristirahat di bawah pohon bakau di tepi Sungai Umai, ribuan bakau tiba-tiba jatuh dan menusuk tubuh para prajurit, menghancurkan kekuatan pasukan Pangeran Empang Kuala.

Tragedi Kematian Putri-Putri Cantik

Meskipun berhasil mengalahkan pasukan Pangeran Empang Kuala, Ratu Cik Sima dan putri-putrinya tidak bisa merayakan kemenangan mereka. Ketika mereka kembali ke tempat persembunyian di hutan, mereka menemukan lubang tempat mereka bersembunyi telah runtuh dan tertimbun tanah. Ketujuh putri cantik tersebut tewas terjebak di bawah reruntuhan tersebut. Dalam versi lain juga disebutkan bahwa Putri Tujuh meninggal karena kehabisan persediaan makanan dan minuman karena perang berlangsung selama empat bulan, sementara mereka hanya memiliki persedian selama tiga bulan saja.
legenda putri tujuh
Peta Administrasi Kota Dumai

Asal Usul Nama Kota Dumai

Kisah kematian tragis Putri Tujuh tersebut menjadi asal usul nama Kota Dumai, yang dalam bahasa Melayu berarti "tujuh" atau "ketujuh". Nama ini dipilih sebagai penghormatan kepada Putri Tujuh yang menjadi bagian sejarah dan cerita rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Kisah Putri Tujuh adalah salah satu cerita yang memperkaya budaya dan sejarah Indonesia, khususnya Kota Dumai. Meskipun hanya mitos, legenda ini menjadi bagian penting dari identitas kota dan mengingatkan kita akan kecantikan dan kesedihan yang menyertainya.
Demikian konspirasi mengenai legenda Putru Tujuh versi Conspiramyths. Semoga bisa menambah ilmu dan pengetahuan Anda. Jangan lupa tinggal komentar untuk membangun situs web ini menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.

1 thought on “10 Mitos Menakjubkan Putri Tujuh Asal Usul Kota Dumai. Sudahkah Anda Mengetahuinya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *