4 Mitos di Jogja yang Masih Melekat di Kalangan Masyarakat, Masih Berani Menantang?

Yogyakarta merupakan suatu daerah yang kental dengan budaya-budaya Jawa. Termasuk mitos  yang sudah turun temurun sehingga masih dipercaya oleh masyarakat jogja setempat.

Layaknya sebuah pantangan, mitos muncul dari sebuah pengalaman dari Sejarah yang pernah terjadi di masa lalu. Meski begitu, masyarakat asli Jogja mulai menyebarkan mitos tersebut pada turis yang berkunjung ke Jogja sehingga tersebar rumor-rumor tentang mitos yang ada dijogja tersebut. Lalu apa saja mitos di jogja yang masih di percaya banyak orang hingga saat ini?

Berikut adalah rangkuman mitos di Jogja yang saat ini masih dipercaya masyarakat.

Larangan memakai baju berwarna hijau di pantai

  4 Mitos di Jogja yang Masih Melekat di Kalangan Masyarakat, Masih Berani Menantang?  

Mitos pertama ini sudah tidak menjadi hal asing lagi untuk masyarakat Indonesia. Larangan memakai baju berwarna hijau di pantai adalah mitos yang berkaitan dengan legenda Nyi Roro Kidul, ratu laut dalam yang dipercaya memiliki kekuatan gaib. Konon katanya, warna hijau adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul. Oleh karena itu, orang yang memakai baju berwarna hijau di pantai dikatakan akan menarik perhatian Nyi Roro Kidul dan dapat ditarik ke dalam kerajaannya.

Cerita mistis  ini telah ada sejak zaman dahulu dan masih dipercaya oleh masyarakat hingga saat ini. Meskipun tidak ada bukti ilmiah yang mendukungnya, tapi tetap menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat Indonesia.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa hal ini masih dipercaya oleh masyarakat jogja :

 
  • Kepercayaan terhadap Nyi Roro Kidul

Nyi Roro Kidul adalah sosok yang sangat populer di masyarakat Jawa. Banyak orang yang percaya bahwa Nyi Roro Kidul benar-benar ada dan memiliki kekuatan gaib. Hal ini membuat orang-orang menjadi takut untuk melanggar larangan yang berkaitan dengan Nyi Roro Kidul.

 
  • Pengaruh tradisi

Mitos ini telah ada sejak zaman dahulu dan telah diturunkan dari generasi ke generasi dan telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia, sehingga banyak orang yang tetap percaya pada hal ini.

 
  • Kekhawatiran akan keselamatan

Mitos ini juga diyakini dapat mencegah terjadinya kecelakaan di pantai. Pantai selatan Jawa dikenal memiliki ombak yang besar dan berbahaya. Dengan menghindari pemakaian baju berwarna hijau, orang-orang berharap dapat terhindar dari kecelakaan.

 

Larangan memakai batik motif garuda di Keraton Yogyakarta

  Keraton Yogyakarta: Sejarah Berdirinya, Fungsi, dan Kompleks Bangunan Halaman all - Kompas.com  

Keraton Jogjakarta merupakan salah satu destinasi wisata di jogja yang kerap didatangi banyak pengunjung. Jika kamu tertarik ke sana, sebaiknya hindari mengenakan pakaian batik dengan motif garuda. Karena di Keraton Yogyakarta, ada mitos yang melarang orang memakai batik motif garuda. Mitos ini berkaitan dengan simbol Garuda yang dianggap sakral bagi Keraton Yogyakarta.

Garuda adalah hewan mitologis yang merupakan kendaraan Dewa Wisnu. Dalam budaya Jawa, Garuda juga merupakan simbol kebesaran dan kekuatan. Motif Garuda sering digunakan dalam batik, baik untuk pakaian maupun benda-benda lain.

Di Keraton Yogyakarta, motif Garuda hanya boleh dipakai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono, raja Keraton Yogyakarta. Konon, jika ada orang lain yang memakai batik motif Garuda di Keraton, maka orang tersebut akan mengalami hal-hal buruk, seperti kesialan, sakit, atau bahkan kematian.

 

Pasar gaib di Gunung Merapi

  Erupsi gunung Merapi : apa yang perlu masyarakat ketahui?  

Di lereng Gunung Merapi, tepatnya di daerah Pasar Bubrah, ada yang mengatakan bahwa terdapat sebuah pasar gaib yang hanya bisa diakses oleh makhluk gaib. Pasar ini dikatakan hanya bisa dilihat pada malam hari, dan di dalamnya terdapat makhluk gaib dari berbagai macam jenis yang berkumpul untuk berdagang dan bertransaksi. Barang-barang yang diperdagangkan di pasar ini pun tidak biasa, seperti emas, permata, dan benda-benda gaib lainnya.

Banyak orang yang percaya bahwa pasar gaib ini benar-benar ada. Mereka berpendapat bahwa mitos ini telah ada sejak zaman dahulu dan telah diturunkan dari generasi ke generasi. Mitos ini juga telah menjadi bagian dari budaya dan tradisi masyarakat sekitar Gunung Merapi.

Berikut adalah beberapa cerita yang berkaitan dengan mitos pasar gaib di Gunung Merapi :

 
  • Cerita tentang pendaki yang melihat pasar gaib

Ada banyak cerita tentang pendaki yang mengaku melihat pasar gaib di Gunung Merapi. Salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang seorang pendaki yang melihat pasar gaib pada saat mendaki Gunung Merapi pada malam hari. Pendaki tersebut mengaku melihat keramaian di area Pasar Bubrah, dan mendengar suara-suara orang yang sedang berdagang.

 
  • Cerita tentang orang yang hilang di Pasar Bubrah

Ada juga cerita tentang orang yang hilang di Pasar Bubrah. Cerita ini sering dikaitkan dengan mitos penculikan makhluk gaib. Konon, makhluk gaib yang tinggal di Pasar Bubrah sering menculik orang yang datang ke pasar tersebut.

 

Larangan melewati Ringin Kurung (Ringin Kembar) yang ada di Jogja

  Orang yang Bisa Lewat di Antara 2 Pohon Beringin di Jogja Ini Konon Hajatnya akan Terkabul, Bisa Tolak Bala - Suara Merdeka Jogja

Ringin kurung, dua pohon beringin besar yang terletak di tengah Alun-alun Selatan Yogyakarta, merupakan ikon kota tersebut. Kepopuleran pohon beringin kembar ini semakin meningkat karena adanya tradisi “Masangin”, yaitu berjalan dengan mata tertutup untuk bisa melewati diantara kedua pohon beringin tersebut.

Tradisi ini populer karena adanya mitos bahwa siapa saja yang berhasil melakukan Masangin, maka permintaannya akan terkabul. Sebaliknya, bagi yang gagal, itu menandakan bahwa hati orang tersebut kurang bersih.

Selain tradisi Masangin, ada mitos lain yang beredar tentang Ringin kurung, yaitu pohon beringin kembar tersebut merupakan gerbang penangkat bagi kerajaan. Konon, tentara penyerang yang melewati pohon beringin tersebut akan kehilangan kekuatan dan akal pikirannya.

Semua itu hanyalah cerita rakyat yang masih dipercaya oleh banyak orang. Mitos dapat diyakini sebagai cerita sejarah, cerita yang dibuat-buat untuk menakut-nakuti, atau cerita yang hanya merupakan hiburan. Apakah mitos benar-benar ada atau tidak, itu tergantung pada keyakinan masing-masing orang.  Untuk mendapatkan cerita cerita mistis lainnya di jogja anda dapat menjumpai dan membacanya di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *