8 Fakta Pesugihan Yang Menyeramkan Di Gunung Kawi Saat Penelitian Mahasiswa UB!

Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) melakukan ekspedisi dan meneliti praktik pesugihan di Gunung Kawi. Mereka adalah Muhammad Harun Rasyid Al Habsyi, Zulfikar Dabby Anwar, Suntari Nur Cahyani, Anggi Zahwa Romadhoni, dan Andini Laily Putri. Mereka adalah anggota kelompok Artha Kawi. Mereka berasal dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

 

1. Tujuan Penelitian Mahasiswa UB di Gunung Kawipesugihan

Dipimpin oleh dosen Destyana Ellingga Pratiwi, SP, MP, MBA, penelitian ini dilakukan untuk menggali hubungan antara praktik mistik Gunung Kawi dengan gangguan jiwa, khususnya psikosis, skizofrenia, dan psikosis.

 

Harun mengaku penelitian tersebut bermula dari ketertarikan terhadap rumor adanya praktik pesugihan di kawasan Gunung Kawi. Informasi pertama yang didapat adalah bahwa amalan pesugihan memerlukan syarat khusus, yakni syarat pengorbanan.

 

“Berdasarkan artikel di Internet, ada yang bilang dalam praktik pesugihan ada syarat khusus yang disebut pengorbanan,” kata Harun saat diwawancarai detikJatim, Sabtu (7 Oktober/2023).

 

2. Pelaku Ritual Khawatir Syarat Tumbal

Salah satu anggota tim peneliti, Muhammad Harun Rasyid Al Habsyi mengatakan, penelitian tersebut juga dilakukan untuk mengungkap apakah mereka yang melakukan ritual tersebut memiliki kekhawatiran terhadap syarat kurban. Jadi Anda merasa rentan terhadap psikosis, sejenis gangguan jiwa atau mental.

“Kami menduga pelaku kejadian pesugihan akan merasa hidupnya tidak tenteram sehingga cenderung mengalami gangguan jiwa,” jelasnya. “Dari situlah kami jadi penasaran dengan kebenarannya, terutama tentang kondisi orang yang melakukan ritual tersebut jika mengorbankan orang di sekitarnya,” imbuhnya.

 

3. Pelaku Ritual Kerap Punya Pengalaman Tak Biasa dan Unik

Hasil penelitian 5 mahasiswa UB setelah mewawancarai sejumlah informan yang melakukan ritual di Gunung Kawi sering mendengar suara atau melihat gambar yang tidak dapat dilihat orang lain.

Peneliti terus menganalisis data yang diperoleh. Temuan awal menunjukkan adanya hubungan signifikan antara ritual pesugihan Gunung Kawi dengan kondisi psikologis penyerang.

“Dari sejumlah informan yang diwawancarai, belum bisa dipastikan adanya pengorbanan manusia,” jelasnya.

 

4. Pengalaman Pelaku Ritual Pesugihan Gunung Kawi

Ekspedisi Lima Mahasiswa UB : Telusuri Pelaku Ritual Pesugihan Gunung Kawi  Terkait Dampak Psikologis | Prasetya UB » Prasetya UB

Menurut Harun, tim mencari informasi dan pengalaman pelaku ritual pesugihan Gunung Kawi serta kerabatnya. Dari sini mereka berkesimpulan bahwa konsep kekayaan sebagai ganti nyawa dalam praktik pesugihan Gunung Kawi dipahami sebagai pengorbanan yang harus dilakukan oleh pesugihan untuk kepentingan individu.

Ditambahkannya, sesaji yang harus dilakukan oleh pelaku ritual tidak sama dengan yang dilakukan oleh pelaku ritual lainnya. Itu semua tergantung tujuan dan motif ritual yang dilakukan. Biasanya mereka yang melakukan ritual tersebut mencari kekayaan, status, atau kesuksesan.

Saat observasi dan wawancara, informan yang ditemui tim Artha Kawi mengungkapkan bahwa setiap individu akan ditanyai keinginan atau tujuan ritual tersebut. Misalnya, jika mereka meminta harta, maka mereka harus memenuhi syarat yang ditetapkan oleh penasehatnya.

 

5. Keinginan Pelaku Ritual Terkabul Dalam Setahun

Jika dalam setahun keinginannya terkabul, maka orang yang melakukan ritual tersebut harus mengadakan perayaan berupa pengorbanan. Biasanya ritual tersebut dilakukan pada malam Jumat Legi atau malam Suro.

"Jadi yang minta harta dipanggil (diminta) begitu ya. Ditanya Harta, mau apa, tapi imbalannya diminta sesuatu. Engko (nanti) kalau misalnya bisa kaya 1 tahun, hal ini diperlukan setiap tahun. Lek (kalau) gak masuk ya kita sing (yang) meninggal. Dari keluarganya, kalau nggak keponakan," kata Harun mengutip hasil wawancara tim dengan R, pelaku ritual berusia 78 tahun asal Lumajang.

Harun menjelaskan, tumbal atau pengorbanan bagi pelaku ritual pesugihan Gunung Kawi, wajibnya dilakukan sekali dalam satu tahun. "Kebanyakan para pelaku ritual yang berasal dari luar Gunung Kawi. Mereka datang ke Keraton Gunung Kawi pada malam Jumat Legi atau malam 1 Suro dan Hari Raya Idul Fitri," paparnya.

 

6. Tentang Tumbal Wedhus Kendit

Tim menemukan bahwa sebagian besar permintaan yang dikirim adalah kekayaan, gelar atau pangkat, dan kesuksesan bisnis. “Klaim umum yang muncul dalam wawancara dengan beberapa informan adalah kambing tersebut harus disembelih dengan syarat ada sabuk melingkar di perutnya dan berbentuk seperti amplop,” kata Harun kepada detikJatim, Sabtu (10 Juli/2023).

Kambing dikurbankan dengan syarat memakai ikat pinggang melingkar yang biasa dikenal masyarakat dengan sebutan wedhus kendit. Kambing jenis ini sering digunakan sebagai alat ritual untuk mengusir roh jahat. "Biasanya dibawakan oleh tokoh bernama Pangoyeg. Harun melanjutkan: “Harganya belum diketahui, tapi ada indikasi bisa mencapai Rp 10 juta.”

Namun, Harun menegaskan keaslian informasi yang didapat dari warga sekitar tentang adanya ritual kurban pada upacara pesugihan di Gunung Kawi belum bisa dikonfirmasi. “Hal itu diungkapkan warga setempat. Namun kami tidak memverifikasi faktanya, karena penelitian kami fokus pada ketidakstabilan mental,” tegasnya.

 

7. Praktik Pesugihan Gunung Kawi Cenderung Mental Disorder

Dalam penelitian tersebut ditemukan adanya keterkaitan antara praktik pesugihan Gunung Kawi dengan kecenderungan psikosis atau gangguan kejiwaan atau kejiwaan, yaitu gangguan kesehatan yang mempengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku, suasana hati, atau kombinasi keduanya. Khususnya gangguan jiwa pada penulis Pesugihan.

“Secara keseluruhan, hasil yang kami peroleh setelah mewawancarai dan mengamati sejumlah pelaku pesugihan Gunung Kawi dan kerabatnya menunjukkan bahwa ada hubungan antara praktik pesugihan Gunung Kawi dengan kecenderungan terjadinya gangguan jiwa, khususnya gangguan jiwa pada seniman Pesugihan. , " jelasnya.

 

8. Kisah Mistis yang Dialami Tim Artha Kawi

Temuan Mengejutkan Penelitian 5 Mahasiswa UB Praktik Pesugihan Gunung Kawi

“Untuk cerita unik dan seram ini, kami juga punya pengalaman,” kata Harun. Terutama saat mengumpulkan data.” Harun mengungkapkan bahwa mereka mendapat pengalaman di luar nalar. Hal itu terjadi saat tim menuju Istana Gunung Kawi. Tiba-tiba rombongan 5 orang siswa yang sedang berjalan bersama-sama sebelum berpisah.

Bahkan dalam perjalanan, mereka seperti tersesat hingga memakan waktu cukup lama mencapai tujuan. Kondisi itu mengakibatkan ekspedisi hari itu mengalami keterbatasan waktu. "Pernah saat perjalanan menuju Keraton Kawi, kami sempat berputar-putar atau kami merasa disesatkan dan tim sempat secara tidak logis terpecah dan terpisah di dalam perjalanan menuju Keraton Kawi. Sehingga penelitian kami di hari itu mengalami keterbatasan waktu," tutupnya.

    Baca artikel lainnya disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *