Konspirasi The Phantom Time Hypothesis. Benarkah Kita Hidup di 2024?

The Phantom Time Hypothesis menyatakan bahwa sekarang ini seharusnya masih tahun 1727! Buktinya ada, tapi lagi-lagi ini masih bercorak teori konspirasi.

Sebetulnya teori ini sudah tidak terlalu percayai lagi karena refutasinya sudah ada banyak. Tapi teori ini mungkin masih percayai oleh orang orang berusia 17–20 tahun yang pernah memahami The Phantom Time Hypothesis. Saat itu mungkin masih sedang asik-asiknya membaca sejarah klasik.

The Phantom Time Hypothesis
Ilustrasi Pembuatan Kalender Gregorian

The Phantom Time Hypothesis

Jadi narasi utama daripada teori konspirasi yang dikenal sebagai The Phantom Time Hypothesis ini adalah: tahun 614–911 Masehi tidak pernah terjadi! Artinya harusnya kita hidup pada tahun 1727, bukan 2024!

Wow menakjubkan bukan. Saat awal membaca The Phantom Time Hypothesis mungkin beberapa orang akan merinding. Apalagi hipotesa ini bukan dikemukakan oleh ilmuwan wannabe, melainkan oleh Heribert Illig, seorang sejarawan asal Jerman.

Sebelum memasuki penjelasan mengenai hipotesa ini, ada baiknya Anda membaca artikel sebelumnya mengenai sejarah kalender yang sedang gunakan saat ini, Kalender Gregorian.

Baca juga Apakah Kalender Kita Akurat? Berikut Konspirasi Menakjubkan Sistem Gregorian 12 Bulan

Jadi awal mulanya, ditemukan kesalahan dari Kalender Julian, yaitu kalender yang dipakai sebelum Kalender Gregorian. Kalender Julian ini memprediksi kalau satu periode revolusi Bumi terhadap Matahari adalah selama 365,25 hari.

Ketidakakuratan ini menyebabkan Kalender Julian meleset 1 hari tiap 128 tahun, karena ditemukan yang benar adalah Bumi butuh 365,2422 hari untuk berputar satu kali mengelilingi Bumi. Akibatnya seperti yang telah ditulis, pada tahun 1500-an dan di masa Paus Gregorius XIII, Minggu Paskah yang harusnya jatuh pada 21 Maret malah jatuhnya di 11 Maret, sesuai terjadinya equinox pertama di sebuah tahun. The Phantom Time Hypothesis.

Kalender Gregorian sendiri akhirnya dibentuk sebagai reformasi agama dan sipil, lalu ketika implementasi tanggal yang hilang ditambahkan agar tidak meleset lagi. Sehingga terjadi leap atau lompat tanggal. Sesudah 4 Oktober 1582, kalender langsung lompat ke 15 Oktober 1582.

Dari sini dan banyak data lain, Illig melahirkan The Phantom Time Hypothesis tadi.


Berikut ini adalah argumen-argumen Illig pada hipotesis The Phantom Time Hypothesis tersebut.

Penambahan waktu yang tidak sesuai

Coba Anda hitung. Meleset 1 hari tiap 128 tahun, artinya seharusnya Kalender Julian meleset selama 13 hari pada 1582. Lalu Anda perhatikan, "hari yang hilang" dan ditambahkan itu hanya 10 hari! Yaitu dari 4 Oktober ke 15 Oktober. Kok bisa? Aneh kan?

Kenapa kok aneh? Jadi begini…

Penambahan 10 hari itu artinya hanya menutupi gap selama 1280 tahun. Dan penambahan 10 hari ini juga "pas" dengan equinox. Tentu ini tak masuk akal. Harusnya penambahan hari kurang 3 hari, artinya ditambahkan 10 hari harusnya equinox masih meleset 3 hari.

Satu-satunya hal yang bisa menjelaskan kejadian ini adalah berarti Kalender Julian sudah disesuaikan dengan ditambahkan 3 hari untuk mengurangi gap. 3 hari sendiri artinya disesuaikan untuk 384 tahun. Tapi ini tak mungkin, soalnya reformasi ini baru terjadi di masa Paus Gregorius XIII.

Apakah Paus Gregorius XIII mengerti dengan error ini? Atau ada sesuatu yang terjadi?

Illig mulai menduga kalau jangan-jangan ada 384 tahun dari sejarah Bumi yang tak pernah terjadi, dan itulah alasan mengapa penyesuaian kalender di tahun 1582 hanya butuh 10 hari dan bukan 13 hari. Artinya, sebetulnya penyesuaian kalender terjadi pada 1198, dan ada 384 yang tidak pernah terjadi tapi diselipkan ke dalam Kalender Julian.

Miskinnya bukti arkeologi pada Middle Ages

Sebetulnya abad ke-6 hingga abad ke-10 adalah abad dimana bukti arkeologi Eropa sangatlah minim. Saking minimnya hingga di Jerman hampir tak ada bukti arkeologi yang signifikan dan bertanggalkan antara abad ini.

Ini menimbulkan kecurigaan bagi Illig hingga lahir lah The Phantom Time Hypothesis.

Isu Propaganda Charlemagne

Untuk ini, Anda mungkin butuh baca sedikit sejarah tentang Penubuhan Kekaisaran Romawi Suci yang erat kaitannya dengan Charlemagne, atau Charles the Great, atau Charles Yang Agung.

the phantom time hypothesis
Peta Pembagian Kerajaan Awal di Eropa

Charlemagne adalah raja legendaris di Eropa yang menyatukan wilayah besar di Eropa, yaitu wilayah Francia dan Germania. Francia dan Germania dikenal sebagai wilayah yang subur, kaya, makmur, dan strategis. Francia adalah nama kuno untuk Prancis, Germania adalah nama kuno untuk Jerman.

Keberhasilan ini sangat monumental. Pasalnya sesudah keruntuhan Romawi, tidak ada pemimpin lain yang benar-benar bisa menyatukan Prancis dan Jerman. Napoleon Bonaparte saja tidak bisa dibilang menyatukan Prancis dan Jerman. Tuan Bonaparte hanya berhasil mem-vassal-isasi negara-negara Jerman, tapi mereka selalu punya pemerintahan yang otonom meski tunduk dengan Paris.

Pesisir Francia sendiri adalah salah satu pelabuhan dagang terkaya. Pesisir Germania memang kalah ramai dari Pesisir Francia tapi tetap kaya karena terdapat arus barang yang cukup kencang ke arah Skandinavia dan Rusia. Produksi bulu juga konon awalnya masuk dari Germania dulu.

Nah, ada satu kontra dari Charlemagne ini. Sejarah Charlemagne itu dikenal sangat berlebihan atau dilebih-lebihkan.

Dugaan terbesar adalah akun sejarah Charlemagne ini dibesar-besarkan oleh Kaisar Otto III dari Kekaisaran Romawi Suci.

Jadi ceritanya paska kematian Charlemagne, kerajaannya dibagi-bagi. Pembagiannya terdapat banyak versi sesuai kondisi geopolitik tiap tahun, dan pembagian final terjadi di tahun 870 M.

the phantom time hypothesis
Peta Pembagian Tahap Dua

Pembagian ini praktis menjadi fondasi awal dari Prancis, Jerman, dan Lombardia (yang nantinya keturunannya Sardinia-Piedmont akan menyatukan Italia).

Nah, sebelum Otto III ada lagi Otto I berasal dari keturunan timur, yaitu East Francia. Otto I mewarisi wilayah timur dari kerajaan Charlemagne.

Konon untuk memperbesar klaim Otto III terhadap kerajaannya Charlemagne, dia membesar-besarkan sejarah Charlemagne agar klaim hukumnya terhadap suatu wilayah menjadi besar. Klaim ini didukung oleh Negara Kepausan atau Papal States (Vatikan) yang ingin memperbesar hegemoni agama terhadap Eropa.

Illig sendiri berpendapat kalau Charlemagne itu tak pernah ada, dan hanya propaganda Otto I untuk naik tahta serta agar Paus bisa punya hegemoni agama yang besar terhadap Eropa lewat Kekaisaran Romawi Suci. Dari sinilah konspirasi dimulai.

Bagaimana bisa Charlemagne yang selama lebih dari 40 tahun selalu berperang, juga bisa menjadi seorang astronom, inventor di bidang agrikultur dan hukum (jury system konon diprakarsai oleh Charlemagne), serta juga penulis. Dia juga mereformasi pendidikan, produk hukum baru, sistem pemerintahan feudal yang terdesentralisasi, sistem perpajakan yang tersentralisasi, dan lain-lain.

Sesuatu yang menurut Illig harusnya memakan 4–5 lifetime untuk dicapai.

Kaisar Otto III diduga berkonspirasi dengan Paus Silvester II untuk memajukan waktu dan menambahkan sejarah fabrikasi mengenai Charlemagne yang di dunia modern sendiri sudah dikenal dilebih-lebihkan. Dia juga menduga kalau Kaisar Konstantin VII dari Kekaisaran Bizantium juga terlibat, karena tentu untuk konspirasi sebesar ini butuh banyak tokoh berpengaruh. Saat itu tokoh paling berpengaruh lain tentunya adalah Kaisar Bizantium, dimana posisi Romawi Suci dan Bizantium akan mirip dengan AS dan Tiongkok di masa kuno.

Kalau dicocokkan dengan poin pertama. The Phantom Time Hypothesis dan lagi The Phantom Time Hypothesis.

the phantom time hypothesis
Ilustrasi Charlemagne Sedang Berperang

Catatan sejarah Carolingian (negara pendahulu Romawi Suci) selalu lengkap hingga tahun 600-an, dan lengkap lagi mulai tahun 900-an hingga 1000-an

Dinasti Carolingian dan pendahulu-pendahulunya dikenal punya catatan sejarah yang sangat lengkap. Dari catatan inilah kita bisa melihat banyak sejarah besar terjadi. Terutama sejarah kemartiran, dan juga sejarah peperangan.

Lewat catatan inilah kita bisa tahu legenda-legenda seperti Rollo dari Normandia. The Phantom Time Hypothesis.

Nah, catatan sejarah dari tahun 600-an hingga 900-an itu sangat minim. Catatan sejarah ini baru mulai lengkap lagi di tahun 900-an, dan mulai intens lagi sejak tahun 1000-an. The Phantom Time Hypothesis.

Arsitektur tahun 400-an masih sangat mirip dengan arsitektur 1000-an

Ini yang banyak menyebabkan orang-orang saat itu mulai percaya dengan teori ini.

the phantom time hypothesis
Katedral Saint-Léonce dari Abad ke-5
Gambar di atas adalah gambar Katedral Saint-Léonce di Fréjus, sebuah kota kecil di selatan Prancis. Bangunan ini konon dari abad ke-5. Kita bisa bandingkan, bahkan dengan bangunan dari abad ke-12.
the phantom time hypothesis
Kastil Beynac dari Abad ke-12

Gambar di atas adalah Kastil Beynac yang terletak di Dordogne, lagi-lagi sebuah kota di bagian selatan Prancis. Saya tidak punya latar belakang sejarah arsitektur yang kuat, tapi kalau mau cherry-pick, perbandingan 7 abad ini masih relatif "sama" kalau mau dibandingkan dengan bangunan lain.

Misalkan kita bandingkan bangunan di atas dengan bangunan dari abad ke-16.

the phantom time hypothesis
Basilika Santo Petrus dari Abad ke-16

Gambar di atas adalah Basilika Santo Petrus di Vatikan, konon berasal dari abad ke-16. Lihat perbedaan arsitektur yang mencolok.

Bangunan dari abad ke-5 hingga ke-13 itu punya ciri-ciri batu-batu bata bertumpuk yang terlihat, alas dari tanah liat, dan atap miring yang monoton. Adapun era renaissance memang mengubah arsitektur menjadi lebih radikal dengan keberadaan pilar-pilar, pintu besar, jendela dalam jumlah banyak, dan juga keberadaan kubah atau dome pada atap bangunan. The Phantom Time Hypothesis.

Kemajuan teknologi yang sangat lambat di era abad ke-6 sampai abad ke-10

Kalau kita menilik sejarah, Romawi Lama bisa menemukan aqueduct, pemandian umum, toilet, dan banyak hal lain dalam kurun waktu yang cukup singkat, yaitu sekitar 200 tahunan. Kehidupan bermasyarakat pun semakin maju. Muncul banyak profesi baru. Muncul bentuk hiburan baru. Muncul berbagai bangunan bergaya baru.

Tapi di abad ke-6 hingga ke-10, kemajuan teknologi itu sangat lambat. Dari bangunan saja praktis tak ada kemajuan seni dan fungsional. Kastil hanya itu-itu saja konsepnya. Tembok tinggi, dibangun di tempat tinggi. Beres. The Phantom Time Hypothesis.

Pembangunan abad ke-6 hingga ke-10 juga sangat minim. Bahkan catatan sejarah yang mengklaim kalau ada pembangunan di abad ke-6 hingga ke-10, Illig mengklaim kalau dirinya sudah mencoba melacak keberadaan bangunan ini dan lebih dari 95% tak pernah ada atau kalau menurut klaim sejarah "dihancurkan". Illig percaya bangunan ini tak pernah ada.


Kontra-narasi dari konspirasi The Phantom Time Hypothesis ini sebetulnya ada banyak.

Charlemagne itu sangat mungkin keberadaannya. Tapi memang pencapaiannya dilebih-lebihkan. Bukankah semua monarki dan sosok otoriter/totaliter banyak yang dilebih-lebihkan? Pencapaian Charlemagne yang besar sebetulnya adalah karena tradisi Francia yang selalu membuka pintu bagi pencari suaka politik atau orang asing untuk masuk ke dalam Dewan Imperial sebagai penasihat dan menteri.

Ada banyak sekali penasihat Charlemagne yang konon berasal dari luar Francia. Yang paling banyak berasal dari Britania. Ada juga yang dari Italia, Lusitania, Hispania, dan wilayah lain. Pokoknya selama punya keahlian, orang pandai diterima di dalam Dewan Imperial Charlemagne.

Makanya Charlemagne bisa mencapai banyak hal. Yang menyebalkan memang hal-hal hebat ini dikreditkan hanya pada Charlemagne saja.

Untuk perkara minimnya bukti arkeologis dan sejarah pada tahun 614–911, sebetulnya ini karena pada masa tersebut terjadi anarkisme dan kekacauan serta kemiskinan besar-besaran. Lebih dari 98% populasi Eropa saat itu hidup dalam kemiskinan yang parah.

Ini terjadi karena Kejatuhan Romawi Barat. Kejatuhan ini menyebabkan beberapa hal:

  1. Ekonomi rakyat yang sangat bergantung pada budak otomatis langsung kolaps. Tidak ada lagi pembangunan dan tahu-tahu rakyat harus bekerja keras untuk sekedar bisa makan.
  2. Tatanan sosial hancur. Pada masa itu, tiap kota itu jaraknya berjauhan. Tiap desa juga berjauhan. Ini juga kenapa Bahasa Latin akhirnya bisa berkembang menjadi banyak bahasa yang berbeda hingga saat ini, yaitu Bahasa Spanyol, Prancis, Okitan, Katalan, Portugis, Italia, Sardinia, Korsika, dan bahasa-bahasa lain. Wilayah yang berjauhan ini juga membuat rakyat jatuh dalam sistem komunalisme. Tiap wilayah jadi sangat otonom dan hanya bayar pajak saja ke raja-raja yang lewat. Otomatis supremasi hukum dan administrasi yang stabil menjadi hilang.
  3. Munculnya kerajaan-kerajaan kecil baru. Kemunculan ini juga menyebabkan tiap negara jadi saling berperang dan beraliansi satu sama lain. Akibatnya memang selama 300 tahun ini hanya terjadi banyak peperangan dan penyakit. Itu kenapa abad ke-5 sampai ke-10 sering juga disebut sebagai Dark Ages (nama lainnya adalah Early Middle Ages).

Bagaimana caranya mau ada perkembangan arsitektur dan teknologi pada zaman ini? Tentu tak mungkin.

Refutasi lain yang tak bisa disangkal dari The Phantom Time Hypothesis adalah wilayah selain Eropa tetap memberikan catatan sejarah yang konsisten.

Salah satu yang paling seru adalah sejarah Penubuhan Inggris dan Penjarahan Viking, atau masa Anglo-Saxon. Tebak ini terjadinya tahun berapa? Yup, abad ke-5 hingga abad ke-11.

the phantom time hypothesis
Peta Great Britain Abad ke-9

Keberadaan tujuh kerajaan Anglo-Saxon ini benar-benar ada, dan harusnya tak mungkin mereka semua bisa bersatu dan tersentralisasi hanya dalam waktu kurang dari 100 tahun.

Dunia selain Eropa seperti Tiongkok dan Timur Tengah juga punya catatan sejarah yang konsisten dengan tahun normal. Di Timur Tengah sendiri seharusnya antara abad ke-5 hingga ke-10 adalah awal Kebangkitan Islam. Illig sempat klaim kalau Islam juga terlibat dalam konspirasi ini dan menambahkan sejarah palsu selama sekian ratus tahun untuk mengkoroborasi klaim Otto III, saya kurang setuju. Umat Kristiani saat itu, terutama di Bizantium, sangat memusuhi Islam. Tak mungkin hal seperti ini terjadi. The Phantom Time Hypothesis.

Lebih-lebih, argumen awal Illig mengenai The Phantom Time Hypothesis juga sudah salah.

Heribert Illig sebagai pencetus konspirasi ini mungkin lupa atau tak pernah membaca yang namanya Konsili Nikea Pertama di tahun 325. Pada konsili ini, sebetulnya Hari Paskah sudah disesuaikan sebanyak 3 hari. Di tahun 325 M pergeseran Hari Paskah sebetulnya sudah terlihat, karena dari implementasi Kalender Julian pada tahun 45 SM, kalender ini sudah dipakai selama 370 tahun. Artinya perbedaan Hari Paskah memang sudah hampir mencapai 3 hari di tahun 325 M.

Jadi Paus Gregorius XIII juga tak salah hanya menambahkan 10 hari. Argumen dasar dan fundamental dari konspirasi The Phantom Time Hypothesis ini, therefore sudah dipatahkan alias The Phantom Time Hypothesis debunked!


Demikian konspirasi mengenai The Phantom Time Hypothesis dari sistem kalender Gregorian versi Conspiramyths. Semoga bisa menambah ilmu dan pengetahuan Anda. Jangan lupa tinggal komentar untuk membangun situs web ini menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.

1 thought on “Konspirasi The Phantom Time Hypothesis. Benarkah Kita Hidup di 2024?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *