Indragiri Hilir, 10 Fakta Menarik dan Legenda Batu Belah Batu Betangkup
Beberapa waktu belakangan ini, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menjadi perbincangan dan pemberitaan hangat baik di sosial media bahkan media-media masa nasional akibat viralnya 'jalan sakaratul maut' di Desa Igal, Kecamatan Mandah. Dalam video beredar tersebut memperlihatkan rusaknya jalan di sana. Kerusakan itu direkam warga yang memperlihatkan dua pengendara sepeda motor melewati jalan ekstrem. Dibalik viralnya jalan rusak tersebut, Kabupaten Inhil memiliki beberapa fakta yang tak kalah menarik. Berikut 10 Fakta menarik dari Kabupaten Inhil yang dirangkum dari berbagai sumber. Menurut Wikipedia, Indragiri Hilir adalah sebuah wilayah kabupaten yang terletak di provinsi Riau, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di kecamatan Tembilahan. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri pertengahan tahun 2023, jumlah penduduk Indragiri Hilir sebanyak 690.236 orang. Kabupaten ini berbatasan dengan provinsi Jambi, tepatnya kabupaten Tanjung Jabung Barat, dan provinsi Kepulauan Riau, yakni kabupaten Lingga.
fakta indragiri hilir
Perkebunan Kelapa di Indragiri Hilir

Hamparan Kelapa Dunia

Mulai dari ujung Utara di Kecamatan Pulau Burung hingga ke Selatan di Kecamatan Reteh, perkebunan kelapa merupakan hal yang sangat lazim menjadi pemandangan di Kabupaten Indragiri Hilir. Luas Kebun Kelapa yang mencapai 400 ribu hektar, membuat Indragiri Hilir memang layak mendapat julukan Negeri Hamparan Kelapa Dunia.
fakta indragiri hilir
Bibit Pohon Mangrove

Memiliki Hutan Mangrove yang Luas dan Indah

Hutan Mangrove atau lebih dikenal dengan hutan bakau di Kabupaten Indragiri Hilir sudah tumbuh dan berkembang dengan sendirinya secara alami. Di Indonesia terdapat lebih kurang 79 jenis Mangrove, 60 jenis diperkirakan ada di Kabupaten Indragiri Hilir, khususnya di Pulau Cawan Kecamatan Mandah. 60 persen bakau di Pulau Cawan masih terdapat pohon besar dan beberapa jenis diantaranya tidak terdapat di daerah lain. Kekayaan ekosistem hayati hutan mangrove ini tumbuh liar sekitar 40 km persegi di kawasan ekowisata Pantai Solop, menjadi bagian dari 100 ha lebih dan diperkirakan telah berusia puluhan tahun. Kawasan hutan mangrove ini sudah menjadi daya tarik alami bagi sejumlah wisatawan lokal maupun mancanegara. Hutan mangrove ini juga dipercantik dengan berbagai flora dan fauna yang hidup di dalamnya, seperti teruntum bunga putih, teruntum bunga merah, piyai, bakau minyak atau daek, lenggadai, kedabu, tumu, perepat, nyirih, nyirih batu, tengar dan api-api, elang bondol, elang laut, bangau tontong dan monyet-monyet yang bergelayut di pohon akan sangat mudah dijumpai di balik rerimbunan hutan mangrove.
fakta indragiri hilir
Ikan Bandeng

Penghasil Ikan Bandeng Terbesar di Riau

Salah satu fakta unik dari Kabupaten Indragiri Hilir selain terkenal dengan produksi kelapanya yang melimpah, ternyata Indragiri Hilir juga memiliki potensi yang besar di sektor perikanan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Produksi Ikan Bandeng Kab. Indragiri Hilir berhasil menyentuh angka 1116 ton, menjadikan Kab. Indragiri hilir sebagai penyumbang Bandeng terbesar se-Provinsi Riau dengan 99,82%, di susul oleh Kab. Pelalawan dengan hasil produksi sebesar 2 Ton.
fakta indragiri hilir
Aktivitas Memetik Buah Kakao

Produksi Kakao Terbesar di Riau

Ternyata Indragiri Hilir juga memiliki potensi di sektor perkebunan Kakao. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, Produksi kakao Kab. Indragiri Hilir berhasil menyentuh angka 431 Ton. Dengan ini Kab. Indragiri Hilir masuk sebagai Kabupaten penyumbang kakao terbesar se-Provinsi Riau, di susul Indragiri Hulu di posisi kedua dengan 241 Ton dan Rokan Hilir di posisi ketiga dengan 114 Ton.
fakta indragiri hilir
Salah Satu Rumah Makan di Indragiri Hilir

Punya Rumah Makan Terbanyak di Riau

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau Tahun 2022, di Kab. Indragiri Hilir sendiri tercatat ada sekitar 402 rumah makan yang tersebar di berbagai kecamatan. Dengan jumlah rumah makan tersebut membuat Indragiri Hilir menjadi Kabupaten dengan rumah makan terbanyak se-Provinsi Riau, disusul oleh Kabupaten Rokan Hulu dengan 373 rumah makan, dan Kabupaten Rokan Hilir dengan 243 rumah makan.
fakta indragiri hilir
Masjid di Indragiri Hilir

Kabupaten dengan Jumlah Masjid Terbanyak Nomor Dua di Riau

Tercatat ada sebanyak 875 bangunan masjid yang berdiri di Indragiri hilir. Ini menjadikan Kab. Inhil sebagai kabupaten dengan jumlah masjid terbanyak nomor dua Se-Provinsi Riau, berada di bawah Pekanbaru yang menempati posisi pertama dengan 895 masjid, dan berada di atas Kabupaten Kampar di posisi ketiga dengan jumlah 845 masjid.
fakta indragiri hilir
Grafik Investasi di Riau

Peringkat Satu Realisasi Investasi di Provinsi Riau

Terdapat dua jenis penanaman Modal, PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) dan PMA (Penanaman Modal Asing) Pada tahun 2022 di level nasional, Provinsi Riau Berada pada peringkat ke 3 untuk realisasi Investasi yakni mencapai Rp 23,7 Triliun, 31% Realisasi Investasi Provinsi Riau disumbangkan oleh Kabupaten Indragiri Hilir. Untuk Wilayah Provinsi Riau menurut Data DPMPTSP, Kabupaten Indragiri Hilir menduduki Peringkat 1 dengan Realisasi PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) mencapai Rp 3 Triliun dan PMA (Penanaman Modal Asing) Rp 4,1 Triliun Nilai Investasi Terbesar di Provinsi Riau. Nilai Realisasi Kabupaten Indragiri Hilir berada di Peringkat 4 se-Sumatera.
fakta indragiri hilir
Pantai Solop di Indragiri Hilir

Memiliki Banyak Destinasi Wisata

Kabupaten Inhil juga memiliki beberapa destinasi wisata yang layak untuk di kunjungi diantaranya Pantai Solop, Agrowisata kelapa, Makam Tuan Guru Sapat, Bukit Condong, Air Terjun 86, Air Terju  Tembulun Rusa, Bukit Berbunga, Hutan Mangrove Mandah, Telaga Mablu, Selensen Point, Pantai Mablu dan masih ada beberapa destinasi lainnya.
fakta indragiri hilir
Kegiatan Optimasi Lahan Gambut

Kabupaten dengan Lahan Gambut Terluas di Riau

Total penyebaran gambut di Provinsi Riau mencapai luasan 4.360.740 hektar. Kabupaten Indragiri Hilir merupakan Kabupaten yang mempunyai luasan gambut terbesar, yaitu 998.610 hektar.
fakta indragiri hilir
Suku Melayu Suku Dominan di Indragiri Hilir

Tempat Tinggal Beragam Suku Nusantara

Kabupaten Indragiri Hilir memiliki penduduk yang sangat heterogen. Kabupaten yang terletak di selatan Provinsi Riau ini memiliki beragam suku bangsa yang hidup secara rukun dan harmonis. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri tahun 2020, jumlah penduduk Indragiri Hilir sebanyak 652.342 jiwa. Ada suku melayu, banjar, bugis, jawa, minang, batak, tionghoa, palembang, Duanu, Sunda, Aceh dan berbagai suku lainnya. Akultrasi budaya dan perkawinan antar suku membuat Kabupaten Inhil semakin kaya akan khazanah budaya nusantara.

Legenda Batu Belah Batu Betangkup dari Indragiri Hilir

Pada jaman dahulu di tanah Gayo, Aceh – hiduplah sebuah keluarga petani yang sangat miskin. Ladang yang mereka punyai pun hanya sepetak kecil saja sehingga hasil ladang mereka tidak mampu untuk menyambung hidup selama semusim, sedangkan ternak mereka pun hanya dua ekor kambing yang kurus dan sakit-sakitan. Oleh karena itu, untuk menyambung hidup keluarganya, petani itu menjala ikan di sungai Krueng Peusangan atau memasang jerat burung di hutan. Apabila ada burung yang berhasil terjerat dalam perangkapnya, ia akan membawa burung itu untuk dijual ke kota. Suatu ketika, terjadilah musim kemarau yang amat dahsyat. Sungai-sungai banyak yang menjadi kering, sedangkan tanam-tanaman meranggas gersang. Begitu pula tanaman yang ada di ladang petani itu. Akibatnya, ladang itu tidak memberikan hasil sedikit pun. Petani ini mempunyai dua orang anak. Yang sulung berumur delapan tahun bernama Sulung, sedangkan adiknya Bungsu baru berumur satu tahun. Ibu mereka kadang-kadang membantu mencari nafkah dengan membuat periuk dari tanah liat. Sebagai seorang anak, si Sulung ini bukan main nakalnya. Ia selalu merengek minta uang, padahal ia tahu orang tuanya tidak pernah mempunyai uang lebih. Apabila ia disuruh untuk menjaga adiknya, ia akan sibuk bermain sendiri tanpa peduli apa yang dikerjakan adiknya. Akibatnya, adiknya pernah nyaris tenggelam di sebuah sungai. Pada suatu hari, si Sulung diminta ayahnya untuk pergi menggembalakan kambing ke padang rumput. Agar kambing itu makan banyak dan terlihat gemuk sehingga orang mau membelinya agak mahal. Besok, ayahnya akan menjualnya ke pasar karena mereka sudah tidak memiliki uang. Akan tetapi, Sulung malas menggembalakan kambingnya ke padang rumput yang jauh letaknya. “Untuk apa aku pergi jauh-jauh, lebih baik di sini saja sehingga aku bisa tidur di bawah pohon ini,” kata si Sulung. Ia lalu tidur di bawah pohon. Ketika si Sulung bangun, hari telah menjelang sore. Tetapi kambing yang digembalakannya sudah tidak ada. Saat ayahnya menanyakan kambing itu kepadanya, dia mendustai ayahnya. Dia berkata bahwa kambing itu hanyut di sungai. Petani itu memarahi si Sulung dan bersedih, bagaimana dia membeli beras besok. Akhirnya, petani itu memutuskan untuk berangkat ke hutan menengok perangkap. Di dalam hutan, bukan main senangnya petani itu karena melihat seekor anak babi hutan terjerat dalam jebakannya. “Untung ada anak babi hutan ini. Kalau aku jual bias untuk membeli beras dan bisa untuk makan selama sepekan,” ujar petani itu dengan gembira sambil melepas jerat yang mengikat kaki anak babi hutan itu. Anak babi itu menjerit-jerit, namun petani itu segera mendekapnya untuk dibawa pulang. Tiba-tiba, semak belukar di depan petani itu terkuak. Dua bayangan hitam muncul menyerbu petani itu dengan langkah berat dan dengusan penuh kemarahan. Belum sempat berbuat sesuatu, petani itu telah terkapar di tanah dengan tubuh penuh luka. Ternyata kedua induk babi itu amat marah karena anak mereka ditangkap. Petani itu berusaha bangkit sambil mencabut parangnya. Ia berusaha melawan induk babi yang sedang murka itu. Namun, sungguh malang petani itu. Ketika ia mengayunkan parangnya ke tubuh babi hutan itu, parangnya yang telah aus itu patah menjadi dua. Babi hutan yang terluka itu semakin marah. Petani itu lari tunggang langgang dikejar babi hutan. Ketika ia meloncati sebuah sungai kecil, ia terpeleset dan jatuh sehingga kepalanya terantuk batu. Tewaslah petani itu tanpa diketahui anak istrinya. Sementara itu – di rumah isri petani itu sedang memarahi si Sulung dengan hati yang sedih karena si Sulung telah membuang segenggam beras terakhir yang mereka punyai ke dalam sumur. Ia tidak pernah membayangkan bahwa anak yang telah dikandungnya selama sembilan bulan sepuluh hari dan dirawat dengan penuh cinta kasih itu, kini menjadi anak yang nakal dan selalu membuat susah orang tua. Karena segenggam beras yang mereka miliki telah dibuang si Sulung ke dalam sumur maka istri petani itu berniat menjual periuk tanah liatnya ke pasar. “Sulung, pergilah ke belakang dan ambillah periuk tanah liat yang sudah ibu keringkan itu. Ibu akan menjualnya ke pasar. Jagalah adikmu karena ayahmu belum pulang,” ucapnya. Akan tetapi, bukan main nakalnya si Sulung ini. Dia bukannya menuruti perintahnya ibunya malah ia menggerutu. “Buat apa aku mengambil periuk itu. Kalau ibu pergi, aku harus menjaga si Bungsu dan aku tidak dapat pergi bermain. Lebih baik aku pecahkan saja periuk ini,” kata si Sulung. Lalu, dibantingnya kedua periuk tanah liat yang menjadi harapan terakhir ibunya untuk membeli beras. Kedua periuk itu pun hancur berantakan di tanah. Bukan main terkejut dan kecewanya ibu si Sulung ketika mendengar suara periuk dibanting. “Aduuuuuh…..Sulung! Tidak tahukah kamu bahwa kita semua butuh makan. Mengapa periuk itu kamu pecahkan juga, padahal periuk itu adalah harta kita yang tersisa,” ujar ibu si Sulung dengan mata penuh air mata. Namun si Sulung benar-benar tidak tahu diri, ia tidak mau makan pisang. Ia ingin makan nasi dengan lauk gulai ikan. Sungguh sedih ibu si Sulung mendengar permintaan anaknya itu. “Pokoknya aku tidak mau makan pisang! Aku bukan bayi lagi, mengapa harus makan pisang,” teriak si Sulung marah sambil membanting piringnya ke tanah. Ketika si Sulung sedang marah, datang seorang tetangga mereka yang mengabarkan bahwa mereka menemukan ayah si Sulung yang tewas di tepi sungai. Alangkah sedih dan berdukanya ibu si Sulung mendengar kabar buruk itu. Dipeluknya si Sulung sambil menangis, lalu berkata “Aduh, Sulung, ayahmu telah meninggal dunia. Entah bagaimana nasib kita nanti,” ratap ibu si Sulung. Tetapi si Sulung tidak tampak sedih sedikit pun mendengar berita itu. Bagi si Sulung, ia merasa tidak ada lagi yang memerintahkannya untuk melakukan hal-hal yang tidak disenanginya. “Sulung, ibu merasa tidak sanggup lagi hidup di dunia ini. Hati ibu sedih sekali apabila memikirkan kamu. Asuhlah adikmu dengan baik. Ibu akan menuju ke Batu Belah. Ibu akan menyusul ayahmu,” ucap ibu si Sulung. Ibu si Sulung lalu menuju ke sebuah batu besar yang menonjol, yang disebut orang Batu Belah. Sesampainya di sana, ibu si Sulung pun bernyanyi, Batu belah batu bertangkup. Hatiku alangkah merana. Batu belah batu bertangkup. Bawalah aku serta. Sesaat kemudian, bertiuplah angin kencang dan batu besar itu pun terbelah. Setelah ibu si Sulung masuk ke dalamnya, batu besar itu merapat kembali. Melihat kejadian itu, timbul penyesalan di hati si Sulung. Ia menangis keras dan memanggil ibunya sampai berjanji tidak akan nakal lagi, namun penyesalan itu datangnya sudah terlambat. Ibunya telah menghilang ditelan Batu Belah.
Demikian artikel mengenai legenda Batu Belah Batu Betangkup versi Conspiramyths. Semoga bisa menambah ilmu dan pengetahuan Anda. Jangan lupa tinggal komentar untuk membangun situs web ini menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.

1 thought on “Indragiri Hilir, 10 Fakta Menarik dan Legenda Batu Belah Batu Betangkup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *