PANDEMI COVID-19 BERMUARA KONSPIRASI: Mengungkap Kebenaran di Balik Teori-teori Konspirasi Covid-19
 

Teori konspirasi dibalik pandemi COVID-19

Sejak menyabarnya virus COVID-19 , menyababkan dampak yang signifkan pada sektor kesehatan dan sektor ekonomi di indonesia bahkan dunia dengan terjadinya penurunan laju perokonomian hingga jatuhnya korban jiwa baik dari pihak tenaga kesehatan maupun masyarakat umum. Saat terjadinya krisis tersebutlah berbagai teori konspirasi bermunculan di masyarakat untuk menjelaskan asal muasal dan penyebaran virus Corona. Teori-teori yang tersebar tersebut seringkali menimbulkan tudingan bahwa pandemi ini sengaja diciptakan oleh beberapa pihak untuk kepentingan tertentu yang masih disembunyikan.

 

Meski sebagian besar tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat, teori konspirasi masih menarik perhatian sebagian masyarakat. Memang benar, teori konspirasi menawarkan penjelasan sederhana atas situasi pandemi yang kompleks dan tidak pasti ini. Teori-teori tersebut juga memuaskan keinginan masyarakat untuk menyalahkan pihak tertentu atas penderitaan akibat virus COVID-19.

Covid-19

Salah satu teori konspirasi yang paling populer adalah virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 sengaja dibuat di laboratorium di Wuhan, China. Virus ini kemudian menyebar sebagai senjata biologis untuk menyerang perekonomian dan stabilitas negara-negara Barat. Sejauh ini tidak ada bukti ilmiah yang dapat menguatkan teori tersebut, namun mantan presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan "dirinya benar melempar klaim bahwa virus berasal dari kebocoran laboratorium".

 

Trump yakin bahwa bahwa virus corona adalah hasil rekayasa ilmiah di sebuah laboratorium di kota Wuhan "Saya dulu mengatakan ini berasal dari Wuhan - ini berasal dari laboratorium," kata Trump saat berbicara di hadapan pendukungnya yang terdiri dari pria dan wanita dengan topi merah bertulis "Jadikan Amerika Hebat Kembali".

  Saat mengutarakan hal tersebut dalam pidatonya orang-orang tidak percaya dengan omongannya. Tapi kemudian, dia menjelaskan orang-orang melihat pandangannya dengan cara berbeda.  "Sekarang mereka mengatakan: Kemungkinan besar ini berasal dari laboratorium Wuhan.". Para pendukung Trump bersorak setuju saat ia berbicara mengenai teori kebocoran laboratorium.   Media dan saintis di Amerika secara umum tidak setuju dengan teori virus corona brasal dari kebocoran laboratorium di Wuhan.  

Sementara itu, beberapa teori konspirasi yang  juga telah banyak dibahas di jejaring sosial, seperti pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh efek berbahaya dari radiasi 5G. Teori ini bermula dari seorang penyanyi dari Amerika Serikat Keri Hilson yang mengunggah sejumlah cuitan diakun Twitternya yang mana salah satunya berisi tautan yang mencoba menghubungkan virus corona dengan 5G.

  "Orang-orang berusaha memperingatkan kita mengenai 5G selama bertahun-tahun. Petisi, organisasi, penelitian, apa yang kita lalui ini (virus corona) adalah dampak radiasi. 5G diluncurkan di Tiongkok pada 1 November 2019. Orang-orang pun mati," kata dia, sebagaimana dikutip dari Cnet, Rabu (18/3/2020).   Pendapat tidak berdasar ini juga dibagikan di Youtube dan Facebook, terutama dari orang-orang yang menolak adanya 5G.   Salah satu pengguna Facebook dengan nama akun Ben Mackie juga menghubungkan virus corona dengan 5G. "Mereka berusaha membuat kita takut akan virus palsu, padahal saat itu menara 5G dibangun di seluruh dunia," katanya. Tak cukup dengan itu, Mackie juga memberikan klaim bahwa pendiri Microsoft Bill Gates menemukan membuat tersebut dalam upaya untuk mengurangi populasi dunia. Dia juga percaya bahwa vaksin yang dikembangkan sebenarnya adalah chip yang ditanamkan pada manusia.  

Teori konspirasi ini seringkali tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat. Menurut para ilmuwan dan pakar medis, penjelasan paling masuk akal tentang asal usul Covid-19 adalah virus ini muncul secara alami melalui proses evolusi dan ditularkan dari hewan ke manusia. Namun sayangnya, teori konspirasi seringkali lebih meyakinkan dan mudah diterima masyarakat dibandingkan penjelasan ilmiahnya yang cenderung rumit.

 

Maraknya teori konspirasi tersebut jelas berdampak negatif terhadap upaya pengendalian pandemi COVID-19. Beberapa orang yang percaya pada teori konspirasi cenderung ragu dan enggan untuk melakukan vaksinasi atau mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Tentu saja hal ini memperlambat tercapainya kekebalan kelompok (herd immunity) di masyarakat dan memperpanjang terjadinya pandemi.

 

Di sisi lain, beredarnya terlalu banyak teori konspirasi yang saling bertentangan juga dapat menimbulkan kebingungan dan ketidakpercayaan masyarakat mengenai informasi medis mana yang benar. Ketidakjelasan ini membuat masyarakat semakin apatis dan skeptis terhadap upaya mitigasi pandemi yang dilakukan pemerintah dan organisasi kesehatan global.

 

Bukti yang membantah teori-teori yang beredar

  Ahli penyakit menular sekaligus penasihat presiden bidang virus corona, Anthony Fauci, membicarakan tentang teori kebocoran laboratorium dan asal mula virus selama wawancara dengan jurnalis BBC World News Amerika, Katty Kay.   Fauci mengatakan bahwa virus ini "jauh lebih mungkin sebagai kejadian alami ... tapi kami akan tetap akan terbuka dengan kemungkinan-kemungkinan lain. Kebanyakan saintis meyakini ini adalah kejadian alami".  

Bulan Mei lalu, Presiden Joe Biden memerintahkan penyelidikan intelijen mengenai asal mula virus corona. Hasil dari penyelidikan ini rencananya akan dirilis dalam beberapa waktu ke depan. Mereka yang bekerja di laboratorium Wuhan di China, membantah adanya kebocoran dari dalam fasilitas.

Para penjabat China mengungkapkan kemarahannya terhadap tuduhan tersebut dan mengatakan tak ada yang tau dari mana virus itu berasal. Namun China sendiri dituduh menghambat penyelidikan sejak awal.

Beberapa temuan dan pernyataan dari ilmuan yang membantah teori konspirasi yang beredar adalah temuan dari para ilmuan yang telah melacak asal-usul virus Corona (SARS-CoV-2) yang menyebabkan COVID-19 berasal dari kelelawar. Virus ini kemudian mengalami mutasi secara alami sehingga dapat menular dari hewan ke manusia.

 

Para ahli epidemiologi dan virologi menjelaskan bahwa karakteristik virus corona memiliki pola penularan yang sesuai dengan penyakit zoonosis dari hewan ke manusia yang pernah terjadi sebelumnya, serta tidak menunjukkan tanda-tanda manipulasi genetik.

 

Klaim bahwa virus corona menyebar melalui jaringan 5G tidak sesuai dengan prinsip ilmiah, karena radiasi dari jaringan 5G terlalu lemah untuk mengubah atau mengangkut materi virus. Berdasarkan data dan laporan dari berbagai negara, hal ini menunjukkan bahwa pola penyebaran dan dampak yang ditimbulkan oleh COVID-19 konsisten dengan pola penularan wabah virus secara alami.

 

Kesimpulan

 

Dengan banyaknya bukti ilmiah yang ada, dapat disimpulkan bahwa pandemi COVID-19 terjadi secara alami dan teori konspirasi yang tersebar luas tidak memiliki dasar yang kuat. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah, media, dan ilmuwan untuk terus mengedukasi dan mengklarifikasi fakta mengenai pandemi COVID-19 kepada masyarakat. Informasi yang akurat dan transparan dari sumber terpercaya diperlukan agar masyarakat tidak mudah disesatkan oleh teori konspirasi yang belum diketahui keasliannya. Dengan demikian, upaya mitigasi pandemi dapat dilakukan secara maksimal tanpa terhalang oleh skeptisisme dan keengganan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *