Apakah Kalender Kita Akurat? Berikut Konspirasi Menakjubkan Sistem Gregorian 12 Bulan

Bagaimana cerita asal usul munculnya kalender Gregorian? Bukankah Bulan Oktober berasal dari kata Okta, yang seharusnya berarti delapan dan Bulan Desember yang berarti sepuluh?

Di awal penggunaan sistem perhitungan tanggal modern, Kalender Romawi sejatinya hanya memperhatikan siklus bulan untuk membedakan bulan-bulan di setiap tahunnya. Kemudian setiap bulan ditetapkan jumlah hari yang bervariasi antara 29 hari hingga 30 hari untuk mencapai titik yang dirasa cukup akurat dengan periode revolusi Bulan terhadap Bumi yang berjumlah 29,5 hari. Satu minggu pada masa tersebut isinya 8 hari. Seiring dengan kemajuan Bangsa Romawi, nama-nama bulan pun mereka resmikan. Kenapa mereka melakukan peresmian tersebut? Karena Bangsa Romawi sangat terobsesi dengan jadwal kegiatan yang terstruktur. Tiap-tiap nama bulan akan merepresentasikan apa-apa saja yang harus mereka lakukan pada bulan-bulan yang bersangkutan. Sistem perhitungan tanggal yang digunakan pada masa tersebut disebut Kalender Romulus.
kalender romulus
pembagian bulan di kalender romulus
Merujuk pendapat sejarawan Plutarch, sebenarnya Bangsa Romawi sudah mengetahui kalau satu tahun itu bukan terdiri dari 304 hari. Saat itu konsensusnya adalah saru tahun terdiri dari 360 hari. Akan tetapi memang terdapat 50 hari lebih yang tidak mereka atur di dalam sistem perhitungan mereka. Alasannya adalah karena selama 50 hari tersebut terjadi musim dingin yang tidak perlu diatur dalam kalender. Hal ini dikarenakan tidak mungkin ada kegiatan apa pun selama musim dingin berlangsung. Penjajahan akan berhenti sejenak, tentara kembali memasuki garnisun dan beristirahat, orang-orang juga makan dari lumbung penyimpanan dan tidak bertani serta beternak. Hanya para budak-budak yang banyak beraktivitas pada kurun waktu ini. Selain itu, jangka waktu 50 hari yang tidak diatur ini memungkinkan tahun-tahun pada Kalender Romulus tidak mengalami selisih dan selalu dimulai pada saat yang tepat tiap tahunnya, yaitu dimulai dari sebuah hari ketika durasi siang sama panjangnya dengan durasi malam. Pada bulan Maret, penjajahan biasanya akan kembali dimulai, dilengkapi dengan berbagai pesta untuk menyambut musim semi. Itulah sebabnya diberi nama Maret sebagai bentuk penghormatan yang ditujukan untuk Mars, Dewa Perang Romawi. Pada bulan April, akan ada banyak festival yang berkaitan dengan kesuburan reproduksi dan juga bidang pertanian serta peternakan. Biasanya pada bulan ini tanah sudah selesai digarap dan bibit tanaman mulai ditanamkan. Tentu saja disertai dengan doa-doa dan harapan baik agar tanah menjadi subur dan memberikan hasil yang diharapkan. Barulah pada zaman Republik Roma, diterapkan sistem perhitungan dua belas bulan agar musim dingin juga bisa diatur dalam kalender. Selain itu sistem perhitungan dua belas bulan juga bertujuan untuk menyempurnakan konsep "kabisat", yaitu selisih antara bulan dan tahun yang tak genap satu hari. Penggunaan sistem awal perhitungan dua belas bulan ini cukup kompleks.
sistem awal kalender 12 bulan
sistem pembagian awal kalender 12 bulan
Sistem kabisat ditambahkan sebagai bulan yang berbeda setelah Bulan Februari, dengan 27 hari di tahun kedua dan 28 hari di tahun keempat. Kemudian Bangsa Romawi jatuh ke masa kediktatoran Triumvirat Pertama, yang dipimpin oleh tiga orang paling berpengaruh pada masa itu. Orang pertama adalah Gnaeus Pompeius Magnus, yaitu orang terkaya kedua di Roma dan tokoh yang berhasil menggagalkan Pemberontakan Hispania dan Lusitania. Orang kedua dan ketiga adalah Marcus Licinius Crassus dan Gaius Julius Caesar, yang beraliansi dalam menggagalkan Pemberontakan Spartacus, budak asal Thracia yang memberontak terhadap tuannya Quintus Lentulus Batiatus dan menyebar hingga ke seantero Semenanjung Italia. Keseimbangan ini terjaga selama beberapa tahun hingga pada masa ketika faksi politik Pompei melawan faksi Crassus dan Caesar. Hingga akhirnya Crassus mati dalam upayanya menaklukkan Persia. Remis politik pun jatuh dan perang sipil tak bisa dihindarkan. Julius Caesar yang sedang bertugas di Galia akhirnya kembali ke Roma dengan membawa legiunnya, sekaligus mendeklarasikan perang sipil dengan Pompei. Tentu saja Julius Caesar memenangkan peperangan dan menjadi Diktator Roma. Salah satu kebijakannya adalah mereformasi sistem yang mengakibatkan lahirnya sistem Kalender Julian.
kalender julian
sistem pembagian bulan di kalender julian
Sistem ini semakin menyederhanakan sistem kabisat yang absurd pada sistem sebelumnya, Kalender Republik, di mana di sana satu tahun bisa terdiri dari 12 hingga 13 bulan. Pada sistem Kalender Julian, bulan ke-13 dihilangkan dengan menambahkan hari-hari pada bulan biasa, serta menambahkan satu hari pada bulan Februari di tahun keempat secara periodik. Setelah Julius Caesar mati dibunuh, penerusnya Marcus Antonius menghormati bulan kelahiran Caesar yaitu Quintillis dengan mengganti namanya menjadi Iulius. Inilah asal mula munculnya bulan Juli. Ini bukan bentuk arogansi Julius Caesar, tapi penerusnya lah yang mengganti sesuai nama Julius Caesar.

Sistem Kalender Gregorian Saat Ini

Kalender Gregorian yang kita pakai saat ini juga memiliki sejarah yang panjang. Ini terjadi lebih dari 1.600 tahun setelah Caesar dibunuh dan merupakan hasil reformasi dari Paus Gregorius XIII. Permasalahannya cukup sederhana. Kalender Julian berasumsi kalau jumlah satu tahun itu presisi terdiri dari 365,25 hari. Namun pada abad ke-8, tanda-tanda kalau sistem kalender tidak akurat sudah terlihat. Dari mana orang-orang Eropa bisa tahu kalau ada penyimpangan hari?
perbandingan durasi hari dalam kalender
perbandingan durasi hari dalam kalender
Cukup mudah. Caranya adalah dengan melihat musim, dan lebih akurat lagi jika ditinjau dari fenomena equinox. Equinox bisa diamati dengan dua cara: Matahari akan terbit persis di barat dan tenggelam persis di timur. Jumlah siang ada 12 jam, dan malam ada 12 jam. Pada tahun 723 M, St. Bede dari Northumbria (sekarang Northumberland, Inggris) mengukur bahwa titik equinox sudah bergeser ke tanggal 18 Maret. Lalu pada tahun 1200-an, Roger Bacon memperkirakan kalau titik equinox sudah bergeser hingga 7–8 hari. Maka dari itu, sejak 1475 Paus Sixtus IV mulai menyuarakan adanya perubahan pada sistem kalender mereka. Perubahan ini menjadi proyek mangkrak selama bertahun-tahun karena banyaknya situasi geopolitik yang mencekam, ditambah dengan kematian tokoh bernama Regiomontanus, seorang ilmuwan Austria yang ditunjuk Paus Sixtus IV untuk menjadi kepala riset mengenai reformasi sistem tersebut. Mengapa reformasi sistem ini memiliki kaitan yang erat dengan agama? Alasannya cukup sederhana. Karena ada yang namanya Hari Paskah, yaitu hari kebangkitan Yesus Kristus. Berdasarkan dogma Katolik Roma, Hari Paskah harus dirayakan pada hari Minggu setelah fenomena equinox. Karena standarnya fenomena equinox terjadi pada tanggal 21 Maret, maka biasanya maksimal Paskah dirayakan pada tanggal 27 Maret dan minimal pada 21 Maret itu sendiri. Kalau perhitungan terus bergeser, banyak tokoh agama yang khawatir kalau hal ini akan menjadi bentuk penistaan dogma, sebab tanggal perayaan Paskah tak lagi akurat dan kalkulasinya akan jadi semakin susah. Selain itu, tanggal Paskah juga akan terus bergeser menjadi lebih cepat, menyebabkan banyak kekacauan pada hari-hari besar lainnya. Maka dari itu, Paus Gregorius XIII pada tahun 1582 mengesahkan Reformasi Gregorian yang mengubah Kalender Gregorian menjadi mirip Kalender Julian. Reformasi ini membutuhkan riset selama lebih dari 30 tahun. Ditemukan bahwa 1 tahun itu seharusnya 365,2425 hari, bukan 365,25 hari sesuai Kalender Julian. Artinya, titik equinox akan bergeser 1 hari lebih cepat untuk setiap 133,33 tahun. Oleh karena itu, Reformasi Gregorian mengempasiskan dua aturan sederhana: Untuk tahun yang habis dibagi 100, hanya dianggap kabisat apabila tahun tersebut habis dibagi 400 juga. Misalkan tahun 1700 bukan tahun kabisat. Tapi tahun 1600 adalah tahun kabisat. Tahun yang habis dibagi 4 dianggap tahun kabisat, kecuali bila tahun tersebut habis dibagi 100 dan tak habis dibagi 400. Dengan begitu, tiap 400 tahun kalau dirata-ratakan setiap tahun akan menghabiskan 365,2425 hari. Diterapkan pula lompat tanggal di awal implementasi sistem untuk menyesuaikan akumulasi kemajuan tanggal akibat ketidakakuratan Kalender Julian dalam memprediksi periode revolusi Bumi. Lompat tanggal yang dilakukan adalah sebanyak 10 hari. Jadi setelah tanggal 4 Oktober 1582, langsung lompat ke 15 Oktober 1582. Di masa modern ini, sebenarnya telah ditemukan kalau satu tahun Bumi itu setara dengan 365,2422 hari. Artinya Kalender Gregorian lagi-lagi masih tidak akurat sebanyak 0,0003 hari per tahunnya. Selisih ini akan menumpuk, dan kemudian akan menyebabkan perhitungan pada tahun 4916 M menjadi tidak akurat sebanyak 1 hari lebih cepat. Maka fenomena equinox di tahun 4916 M akan bergeser ke tanggal 20 Maret, bukan lagi tanggal 21 Maret. Belum ada proposal untuk mengatasi hal ini. Tapi langkah paling mudah sebenarnya adalah dengan menambahkan 1 hari pada bulan Februari tiap 3.333 tahun, terlepas dari statusnya yang kabisat atau bukan, dan dimulai dari tahun 4915 M. Jika proposal ini diterapkan, maka pada bulan Febuari pada tahun 8248 M akan berisikan 30 hari dan akan terus bertambah satu hari setiap 3.333 tahun. Baca juga Konspirasi The Phantom Time Hypothesis. Benarkah Kita Hidup di 2024?
Demikian konspirasi mengenai sistem kalender Gregorian versi Conspiramyths. Semoga bisa menambah ilmu dan pengetahuan Anda. Jangan lupa tinggal komentar untuk membangun situs web ini menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.

1 thought on “Apakah Kalender Kita Akurat? Berikut Konspirasi Menakjubkan Sistem Gregorian 12 Bulan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *