Pekanbaru, 5 Fakta Menarik dan Legenda Putri Kaca Mayang
Pekanbaru, ibu kota provinsi Riau, adalah salah satu kota yang menarik di Indonesia. Dikenal sebagai 'Kota Bertuah', Pekanbaru memiliki beragam daya tarik dan pesona yang unik. Berikut 5 fakta menarik dari Kota Pekanbaru.

Asal Nama Pekanbaru

Pekanbaru dahulu dikenal dengan nama 'Senapelan' yang pada saat itu dipimpin oleh kepala suku. Daerah yang sebelumnya penuh dengan ladang, lambat laun berubah menjadi perkampungan. Lalu perkampungan Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang disebut sebagai dusun Payung Sekaki yang terletak di pinggiran sungai Siak. Namun nama dusun Payung Sekaki tidak terlalu terkenal di masa itu, akhirnya nama Senapelan yang digunakan. Beberapa tahun kemudian Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah menetap di Senapelan.
Diketahui, ia merupakan raja dari Kerajaan Siak Sri Indrapura. Sultan itu kemudian membangun sebuah istana di Kampung Bukit.
Setelah semakin berkembang pada akhirnya pada 23 Juni 1784 Masehi berdasarkan musyawarah para datuk-datuk, Senapelan berubah nama menjadi Pekanbaru.
fakta pekanbaru
Potret Kota Pekanbaru

Punya Banyak Oleh-oleh Kuliner Khas

Pekanbaru juga merupakan surga kuliner bagi para pecinta makanan. Kota ini menawarkan berbagai hidangan lezat yang khas. Rempah-rempah yang digunakan juga merupakan rempah khas Nusantara yang sangat enak di lidah. Beberapa oleh-oleh favorit para wisatawan yang berkunjung ke kota ini yaitu bolu kemojo, keripik nanas, lopek bugi, dodol kedondong, salai ikan patin, dan masih banyak lagi. Keberagaman kuliner unik yang bisa dinikmati wisatawan kota Pekanbaru tersebut merupakan kebanggaan tersendiri bagi warganya.
fakta pekanbaru
Ketan Talam Durian Khas Pekanbaru

Jembatan Abdul Jalil Alamuddin Syah

Pekanbaru memiliki sebuah jembatan dengan bentuk unik dan menarik. Jembatan tersebut bernama Jembatan Abdul Jalil Alamuddin Syah atau lebih dikenal dengan Jembatan Siak IV. Jembatan ini menghubungkan pusat kota Pekanbaru di Jalan Jendral Sudirman Ujung dengan Kecamatan Rumbai Pesisir. Oleh karena itu, jembatan yang membentang di atas Sungai Siak ini menjadi jalur lalu lintas vital bagi kota Pekanbaru.
Selain berfungsi sebagai akses transportasi yang penting, Jembatan Siak IV juga menawarkan pemandangan yang menakjubkan.Wisatawan yang mengunjungi Pekanbaru dapat menikmati pemandangan indah sungai Siak, spot untuk berswafoto, dan serta bersepeda di jembatan ini.
fakta pekanbaru
Jembatan Siak 4 Pekanbaru

Ikon Unik Perpustakaan Soeman Hasibuan

Bagi wisatawan yang mencari keunikan kota Pekanbaru, Perpustakaan Soeman Hasibuan adalah tempat yang sempurna untuk dikunjungi. Perpustakaan Soeman Hasibuan merupakan salah satu ruang baca di kota Pekanbaru. Tempat ini digunakan untuk menyimpan arsip nasional yang berstatus perpustakaan provinsi. Nama dari perpustakan berasal dari seorang pujangga terkenal Riau asal Tapanuli yaitu Soeman Hasibuan. Berlokasi di tengah kota, wisatawan dapat melihat bangunan dengan bentuk unik yang sekilas seperti buku yang terbuka atau alas baca Al-Qur'an. Perpustakaan yang mempunyai enam lantai ini, diresmikan oleh Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla di tahun 2008.
fakta pekanbaru
Perpustakaan Soeman HS di Pekanbaru

Memiliki Salah Satu Masjid Tertua di Riau

Masjid Raya Pekanbaru adalah salah satu masjid tertua di provinsi Riau. Masjid ini dibangun oleh Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah. Sosok tersebut berasal dari Kerajaan Siak pada abad ke 18. Masjid ini telah menjalani beberapa kali renovasi. Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nasional dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merekomendasikan untuk merubah status bangunan. Semula, bangunan yang berupa bangunan cagar budaya menjadi struktur cagar budaya. Hal itu dilakukan atas sejumlah pertimbangan salah satunya seperti adanya peninggalan sejarah yang tersisa di Masjid Raya Pekanbaru ini. Nah, itulah beberapa fakta menarik tentang kota Pekanbaru yang bisa dirangkum secara singkat. Jika Anda ingin berwisata atau berlibur, kota Pekanbaru bisa menjadi salah satu destinasi untuk dieksplorasi. Banyaknya keunikan dari salah satu kota terbesar di pulau Sumatera ini, membuat kita menyadari keindahan peradaban masyarakat yang terus berkembang di Indonesia.
fakta pekanbaru
Potret Masjid Tertua di Pekanbaru

Legenda Putri Kaca Mayang dari Pekanbaru

Kota Pekanbaru adalah salah satu Daerah Tingkat II sekaligus sebagai ibukota Provinsi Riau, Indonesia. Sebelum ditemukannya sumber minyak, Pekanbaru hanyalah sebuah kota pelabuhan kecil yang berada di tepi Sungai Siak. Namun, saat ini Pekanbaru telah menjadi kota yang ramai dengan aktivitas perdagangannya. Letaknya yang strategis (berada di simpul segi tiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapura), menjadikan Kota Pekanbaru sebagai tempat transit (persinggahan) para wisatawan asing, baik dari Singapura maupun Malaysia, yang hendak berkunjung ke Bukittinggi atau tempat-tempat lain di Sumatera. Keberadaan Kota Pekanbaru yang ramai ini memiliki sejarah dan cerita tersendiri bagi masyarakat Riau. Terdapat dua versi mengenai asal-mula kota ini yaitu versi sejarah dan versi cerita rakyat. Menurut versi sejarah, pada masa silam kota ini hanya berupa dusun kecil yang dikenal dengan sebutan Dusun Senapelan, yang dikepalai oleh seorang Batin (kepala dusun). Dalam perkembangannya, Dusun Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki, yang terletak di tepi Muara Sungai Siak. Perkembangan Dusun Senapelan ini erat kaitannya dengan perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Pada masa itu, raja Siak Sri Indrapura yang keempat, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, bergelar Tengku Alam (1766-1780 M.), menetap di Senapelan, yang kemudian membangun istananya di Kampung Bukit berdekatan dengan Dusun Senapelan (di sekitar Mesjid Raya Pekanbaru sekarang). Tidak berapa lama menetap di sana, Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah kemudian membangun sebuah pekan (pasar) di Senapelan, tetapi pekan itu tidak berkembang. Usaha yang telah dirintisnya tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya, Raja Muda Muhammad Ali di tempat baru yaitu di sekitar pelabuhan sekarang. Selanjutnya, pada hari Selasa tanggal 21 Rajab 1204 H atau tanggal 23 Juni 1784 M., berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar dan Kampar), negeri Senapelan diganti namanya menjadi Pekan Baharu. Sejak saat itu, setiap tanggal 23 Juni ditetapkan sebagai hari jadi Kota Pekanbaru. Mulai saat itu pula, sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer dengan sebutan Pekan Baharu. Sejalan dengan perkembangannya, kini Pekan Baharu lebih populer disebut dengan sebutan Kota Pekanbaru, dan oleh pemerintah daerah ditetapkan sebagai ibukota Provinsi Riau. Sementara menurut versi cerita rakyat yang sampai saat ini masih berkembang di kalangan masyarakat Riau, kerajaan yang berdiri di tepi Sungai Siak itu bernama Gasib. Kerajaan ini diperintah oleh seorang raja yang bernama Gasib. Konon, Raja Gasib memiliki seorang putri yang cantik jelita, namanya Putri Kaca Mayang. Namun tak seorang raja atau bangsawan yang berani meminang sang Putri, karena mereka segan kepada Raja Gasib yang terkenal memiliki panglima gagah perkasa yang bernama Gimpam. Pada suatu hari, Raja Aceh memberanikan diri meminang sang Putri, namun pinangannya ditolak oleh Raja Gasib. Karena kecewa dan merasa terhina, Raja Aceh berniat membalas dendam. Apa yang akan terjadi dengan Kerajaan Gasib? Bagaimana nasib sang Putri? Lalu, apa hubungannya cerita ini dengan asal mula Kota Pekanbaru? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam Kisah Puteri Kaca Mayang Dan Asal Mula Kota Pekanbaru di bawah ini. Alkisah, pada zaman dahulu kala, di tepi Sungai Siak berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Gasib. Kerajaan ini sangat terkenal, karena mempunyai seorang panglima yang gagah perkasa dan disegani, Panglima Gimpam namanya. Selama ia menjadi panglima Kerajaan Gasib, tiada satu pun kerajaan lain yang dapat menaklukkannya. Selain itu, Kerajaan Gasib juga mempunyai seorang putri yang kecantikannya sudah masyhur sampai ke berbagai negeri, Putri Kaca Mayang namanya. Meskipun demikian, tak seorang raja pun yang berani meminangnya. Mereka merasa segan meminang sang Putri, karena Raja Gasib terkenal mempunyai Panglima Gimpam yang gagah berani itu. Pada suatu hari, Raja Aceh memberanikan dirinya meminang Putri Kaca Mayang. Ia pun mengutus dua orang panglimanya untuk menyampaikan maksud pinangannya kepada Raja Gasib. Sesampainya di hadapan Raja Gasib, kedua panglima itu kemudian menyampaikan maksud kedatangan mereka. Ampun, Baginda! Kami adalah utusan Raja Aceh. Maksud kedatangan kami adalah untuk menyampaikan pinangan raja kami, lapor seorang utusan. Benar, Baginda! Raja kami bermaksud meminang Putri Baginda yang bernama Putri Kaca Mayang, tambah utusan yang satunya. Maaf, Utusan! Putriku belum bersedia untuk menikah. Sampaikan permohonan maaf kami kepada raja kalian, jawab Raja Gasib dengan penuh wibawa. Mendengar jawaban itu, kedua utusan tersebut bergegas kembali ke Aceh dengan perasaan kesal dan kecewa. Di hadapan Raja Aceh, kedua utusan itu melaporkan tentang penolakan Raja Gasib. Raja Aceh sangat kecewa dan merasa terhina mendengar laporan itu. Ia sangat marah dan berniat untuk menyerang Kerajaan Gasib. Sementara itu, Raja Gasib telah mempersiapkan pasukan perang kerajaan untuk menghadapi serangan yang mungkin terjadi, karena ia sangat mengenal sifat Raja Aceh yang angkuh itu. Panglima Gimpam memimpin penjagaan di Kuala Gasib, yaitu daerah di sekitar Sungai Siak. Rupanya segala persiapan Kerajaan Gasib diketahui oleh Kerajaan Aceh. Melalui seorang mata-matanya, Raja Aceh mengetahui Panglima Gimpam yang gagah perkasa itu berada di Kuala Gasib. Oleh sebab itu, Raja Aceh dan pasukannya mencari jalan lain untuk masuk ke negeri Gasib. Maka dibujuknya seorang penduduk Gasib menjadi penunjuk jalan. Hai, orang muda! Apakah kamu penduduk negeri ini?, tanya pengawal Raja Aceh kepada seorang penduduk Gasib. Benar, Tuan! jawab pemuda itu singkat. Jika begitu, tunjukkan kepada kami jalan darat menuju negeri Gasib! desak pengawal itu. Karena mengetahui pasukan yang dilengkapi dengan senjata itu akan menyerang negeri Gasib, pemuda itu menolak untuk menunjukkan mereka jalan menuju ke Gasib. Ia tidak ingin menghianati negerinya. Maaf, Tuan! Sebenarnya saya tidak tahu seluk-beluk negeri ini, jawab pemuda itu. Merasa dibohongi, pengawal Raja Aceh tiba-tiba menghajar pemuda itu hingga babak belur. Karena tidak tahan dengan siksaan yang diterimanya, pemuda itu terpaksa memberi petunjuk jalan darat menuju ke arah Gasib. Berkat petunjuk pemuda itu, maka sampailah prajurit Aceh di negeri Gasib tanpa sepengetahuan Panglima Gimpam dan anak buahnya. Pada saat prajurit Aceh memasuki negeri Gasib, mereka mulai menyerang penduduk. Raja Gasib yang sedang bercengkerama dengan keluarga istana tidak mengetahui jika musuhnya telah memporak-porandakan kampung dan penduduknya. Ketika prajurit Aceh menyerbu halaman istana, barulah Raja Gasib sadar, namun perintah untuk melawan sudah terlambat. Semua pengawal yang tidak sempat mengadakan perlawanan telah tewas di ujung rencong (senjata khas Aceh) prajurit Aceh. Dalam sekejap, istana berhasil dikuasai oleh prajurit Aceh. Raja Gasib tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menyaksikan para pengawalnya tewas satu-persatu dibantai oleh prajurit Aceh. Putri Kaca Mayang yang cantik jelita itu pun berhasil mereka bawa lari. Panglima Gimpam yang mendapat laporan bahwa istana telah dikuasai prajurit Aceh, ia bersama pasukannya segera kembali ke istana. Ia melihat mayat-mayat bergelimpangan bersimbah darah. Panglima Gimpam sangat marah dan bersumpah untuk membalas kekalahan Kerajaan Gasib dan berjanji akan membawa kembali Putri Kaca Mayang ke istana. Pada saat itu pula Panglima Gimpam berangkat ke Aceh untuk menunaikan sumpahnya. Dengan kesaktiannya, tak berapa lama sampailah Panglima Gimpam di Aceh. Prajurit Aceh telah mempersiapkan diri menyambut kedatangannya. Mereka telah menyiapkan dua ekor gajah yang besar untuk menghadang Panglima Gimpam di gerbang istana. Ketika Panglima Gimpam tiba di gerbang istana, ia melompat ke punggung gajah besar itu. Dengan kesaktian dan keberaniannya, dibawanya kedua gajah yang telah dijinakkan itu ke istana untuk diserahkan kepada Raja Aceh. Raja Aceh sangat terkejut dan takjub melihat keberanian dan kesaktian Panglima Gimpam menjinakkan gajah yang telah dipersiapkan untuk membunuhnya. Akhirnya Raja Aceh mengakui kesaktian Panglima Gimpam dan diserahkannya Putri Kaca Mayang untuk dibawa kembali ke istana Gasib. Setelah itu, Panglima Gimpam segera membawa Putri Kaca Mayang yang sedang sakit itu ke Gasib. Dalam perjalanan pulang, penyakit sang Putri semakin parah. Angin yang begitu kencang membuat sang Putri susah untuk bernapas. Sesampainya di Sungai Kuantan, Putri Kaca Mayang meminta kepada Panglima Gimpam untuk berhenti sejenak. Panglima! Aku sudah tidak kuat lagi menahan sakit ini. Tolong sampaikan salam dan permohonan maafku kepada keluargaku di Istana Gasib, ucap sang Putri dengan suara serak. Belum sempat Panglima Gimpam berkata apa-apa, sang Putri pun menghembuskan nafas terakhirnya. Panglima Gimpam merasa bersalah sekali, karena ia tidak berhasil membawa sang Putri ke istana dalam keadaan hidup. Dengan diliputi rasa duka yang mendalam, Panglima Gimpam melanjutkan perjalanannya dengan membawa jenazah Putri Kaca Mayang ke hadapan Raja Gasib. Sesampainya di istana Gasib, kedatangan Panglima Gimpam yang membawa jenazah sang Putri itu disambut oleh keluarga istana dengan perasaan sedih. Seluruh istana dan penduduk negeri Gasib ikut berkabung. Tanpa menunggu lama-lama, jenazah Putri Kaca Mayang segera dimakamkan di Gasib. Sejak kehilangan putrinya, Raja Gasib sangat sedih dan kesepian. Semakin hari kesedihan Raja Gasib semakin dalam. Untuk menghilangkan bayangan putri yang amat dicintainya itu, Raja Gasib memutuskan untuk meninggalkan istana dan menyepi ke Gunung Ledang, Malaka. Untuk sementara waktu, pemerintahan kerajaan Gasib dipegang oleh Panglima Gimpam. Namun, tak berapa lama, Panglima Gimpam pun berniat untuk meninggalkan kerajaan itu. Sifatnya yang setia, membuat Panglima Gimpam tidak ingin menikmati kesenangan di atas kesedihan dan penderitaan orang lain. Ia pun tidak mau mengambil milik orang lain walaupun kesempatan itu ada di depannya. Akhirnya, atas kehendaknya sendiri, Panglima Gimpam berangkat meninggalkan Gasib dan membuka sebuah perkampungan baru, yang dinamakan Pekanbaru. Hingga kini, nama itu dipakai untuk menyebut nama ibukota Provinsi Riau yaitu Kota Pekanbaru. Sementara, makam Panglima Gimpam masih dapat kita saksikan di Hulu Sail, sekitar 20 km dari kota Pekanbaru. Cerita rakyat di atas tidak hanya mengandung nilai-nilai sejarah, tetapi juga mengandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai moral tersebut adalah sifat setia dan tidak mau mengambil sesuatu yang bukan haknya. Kedua sifat tersebut tercermin pada sifat Panglima Gimpam. Kesetiaan Panglima Gimpam ditunjukkan pada sifatnya yang tidak mau bersenang-senang di atas penderitaan rajanya, Raja Gasib. Ia tidak mau menikmati segala kesenangan dan kemewahan yang ada dalam istana,  sementara rajanya hidup menderita dan dirundung perasaan sedih, karena ditinggal mati oleh putri tercintanya. Di samping itu, Panglima Gimpam juga merasa bahwa ia tidak berhak untuk menikmati segala kemewahan itu, karena bukan hak miliknya.
Demikian artikel mengenai legenda Putri Kaca Mayang versi Conspiramyths. Semoga bisa menambah ilmu dan pengetahuan Anda. Jangan lupa tinggal komentar untuk membangun situs web ini menjadi lebih baik lagi di masa yang akan datang.

1 thought on “Pekanbaru, 5 Fakta Menarik dan Legenda Putri Kaca Mayang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *